JEJAK-NEWS.COM-Kementerian Lingkungan Hidup (LH) Republik Indonesia mengambil langkah komprehensif dan berkelanjutan dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemulihan ekosistem. Selain mengerahkan tim untuk memadamkan titik api di permukaan, Menteri Lingkungan Hidup menegaskan pentingnya intervensi jangka panjang melalui pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut menggunakan sistem pembalikan air (water management) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Dalam peninjauannya langsung di lapangan, Menteri LH menjelaskan bahwa pemadaman api di atas permukaan tanah saja tidak cukup untuk menyelesaikan akar permasalahan karhutla di kawasan gambut. Karakteristik ekosistem gambut yang kering di bagian bawah memerlukan rekayasa hidrologi yang tepat agar muka air tanah tetap terjaga di tingkat ketinggian ideal. Melalui pembangunan sekat kanal dan penerapan sistem pembalikan air, pasokan air dapat dialirkan kembali untuk membasahi kubah gambut secara kontinu, sehingga lahan tetap lembap dan tahan terhadap potensi kebakaran di musim kemarau.
Langkah mitigasi preventif ini melibatkan sinergi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia usaha pemegang konsesi, serta masyarakat peduli api di tingkat tapak. Evaluasi tata kelola air pada lahan gambut konsesi perkebunan dan kehutanan diperketat guna memastikan tidak ada lagi kanal-kanal pengering yang dibiarkan terbuka tanpa izin pengelolaan hidrologi yang benar.
Baca juga: Hotspot Turun Jadi 96 Titik, Menhut Tinjau Bekas Karhutla dan Perkuat Penegakan Hukum di Kalteng
Pemerintah berkomitmen untuk terus mengoptimalkan restorasi ekosistem gambut secara nasional sebagai bagian dari komitmen penurunan emisi gas rumah kaca serta perlindungan keanekaragaman hayati. Dengan pemulihan fungsi hidrologi gambut yang optimal, bencana karhutla diharapkan dapat dicegah secara permanen demi keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat luas.(Yusuf)




