Greenpeace bentangkan spanduk raksasa di Bundaran HI. Direktur Eksekutif LKGSAI Armand sebut aksi ini alarm akal sehat, butuh jutaan spanduk untuk uji respons negara.
JAKARTA-JEJAK-NEWS.COM-Data dan akal sehat bertemu di ketinggian 30 meter. Itulah yang terjadi di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).
Pukul 06.05 WIB, enam aktivis Greenpeace Indonesia memanjat monumen ikonik tersebut dan membentangkan dua spanduk kuning raksasa. Satu sisi yang menghadap Istana Merdeka bertuliskan fakta yang dirasakan publik: “TANGANI KRISIS IKLIM, TURUNKAN BIAYA HIDUP”.
Baca juga: Kakanwil Sebut Rumah Dinas, Menko Yusril Desak Transparansi Total
Sisi lainnya adalah pertanyaan humanis: “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”
Aksi damai ini bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Bersamaan dengan itu, Greenpeace merilis riset terbaru “Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah”, yang mengkorelasikan data kenaikan suhu, gagal panen, dan beban biaya hidup pekerja rentan.
Berdasarkan keterangan resmi dari lapangan, proses evakuasi dilakukan secara humanis oleh petugas gabungan Polres Metro Jakarta Pusat, Kodim 0501 Jakarta Pusat, Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Satpol PP. Evakuasi selesai sekitar pukul 10.30 WIB.
Baca juga: Menteri PKP Turun Langsung ke Petamburan, Pastikan Program Bedah Rumah Warga Layak Huni
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold E.P Hutagalung, S.H., S.I.K., http://M.Si., menegaskan kepada media bahwa seluruh proses mengedepankan keselamatan jiwa para aktivis.
“Kami utamakan keselamatan,” ujarnya.
Data Polda Metro Jaya mencatat total 11 orang diamankan. Lima orang tim dokumentasi telah dipulangkan, sementara enam pemanjat masih menjalani pendalaman oleh Ditreskrimsus dan PPNS. Satu aktivis perempuan sempat mengalami kelelahan dan mendapatkan perawatan medis di Biddokkes Polda Metro Jaya.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam pernyataan terpisah menyebut penyampaian pendapat adalah bagian dari hak demokratis warga yang dijamin konstitusi.
Menanggapi aksi berbasis data tersebut, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Global Strategis Analisis Indonesia (LKGSAI), Armand, memberikan catatan kritis dengan perspektif akal sehat yang humanis.
“Spanduk itu bukan kain. Spanduk itu adalah akal yang ingin diuji. Kenapa warga harus memanjat 30 meter ke langit Jakarta hanya supaya suaranya terdengar? Itu menunjukkan ada yang macet di bawah, di kanal komunikasi kebijakan,” ujar Armand kepada Jejak News, Selasa (20/10/2026).
Menurut Armand, aksi ini harus dibaca sebagai laboratorium demokrasi.
“Menurut saya, kita butuhkan jutaan spanduk dengan berbagai request di sudut kota. Bukan untuk merusak, tapi untuk menguji. Menguji apakah negara masih punya logika untuk merespons fakta di lapangan,” lanjutnya.
Armand menguraikan teori bingar-bingar demokrasi sebagai indikator kesehatan publik.
“Kalau satu spanduk dibentang, lalu tidak ada bingar-bingar, tidak ada perdebatan kebijakan, tidak ada koreksi, itu justru sinyal. Sinyal bahwa wilayah tersebut sudah dianggap kondusif.
Kondusif dan nyaman buat mereka yang ada di dalam sistem, tapi tidak kondusif buat kita yang bayar harga beras naik, yang kena banjir, yang kepanasan.”
Ia menegaskan pentingnya konsistensi kritik warga.
“Karena itu teruslah menggonggong, kasih sirine. Dalam demokrasi, menggonggong itu adalah fungsi alarm warga. Kalau gonggongan kita, sirine kita tidak juga diperhatikan, maka kita patut menduga ada jarak. Jarak antara kepentingan publik dengan kenyamanan kekuasaan. Dan jarak itu dalam etika publik yang kita sebut sebagai sinyal dugaan conflict of interest antara kebutuhan warga dan kebijakan yang sedang berjalan.”
Armand menegaskan, pernyataan tersebut adalah kritik berbasis etika kebijakan publik dan pentingnya ruang dialektika, bukan serangan personal kepada institusi maupun individu manapun. Kritik, kata dia, adalah vitamin bagi demokrasi yang sehat.
Reporter: Yusrizal | Editor: Ismail Saleh





