Air Permukaan Mengering Dua Bulan, PMI dan BPBD Pasok Ribuan Liter Air Bersih

Warga Kunciran Jaya Tangerang mengantre dengan tertib membawa jeriken dan galon kosong di depan mobil tangki air bersih PMI.
Darurat Kekeringan: Proses penyaluran bantuan 5.000 liter air bersih oleh tim reaksi cepat PMI dan BPBD Kota Tangerang untuk menolong puluhan keluarga di Kecamatan Pinang.
TANGERANGJejak News,Ironi pemenuhan hak dasar publik kembali mencuat di tengah teriknya fenomena El Nino yang melanda yurisdiksi Banten. Puluhan kepala keluarga di wilayah Kelurahan Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit akibat krisis air bersih akut yang telah mendera pemukiman mereka selama lebih dari dua bulan terakhir. Mengeringnya sumur pantak dan air permukaan memaksa warga melakukan pengeluaran finansial ekstra di tengah prediksi BMKG bahwa puncak musim kemarau masih akan bertahan hingga Oktober mendatang.
Dampak sosiologis dan ekonomi dari kemarau panjang ini dirasakan langsung oleh salah seorang warga setempat, Haryati. Ia memaparkan bahwa instalasi air di kediamannya telah lumpuh total dan tidak mengalirkan air sama sekali. Untuk menyambung hidup, ia terpaksa merogoh kocek lebih dalam guna membeli air galon komersial dengan fluktuasi harga berkisar antara Rp6.000 hingga Rp10.000 per galon hanya untuk pemenuhan kebutuhan dasar memasak dan minum. Sementara untuk aktivitas sanitasi seperti mandi dan mencuci, ia harus bergantung pada belas kasih tetangga sekitar meski dengan kualitas air yang sudah mulai keruh.
“Sudah ada dua bulan lebih kayaknya. Di rumah sama sekali enggak keluar. Kalau buat air minum, kalau buat masak harus beli. Kalau buat mandi dan lainnya minta sama tetangga. Tapi airnya kurang bersih, airnya keruh. Biaya hidup makin tinggi, lebih tinggi lagi, nambah lagi,” keluh Haryati saat mengantre jeriken air pada Jumat, 18 September 2026.
Merespons jeritan sosiologis tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangerang berkolaborasi dengan PMI Provinsi Banten melakukan intervensi logistik darurat. Otoritas kemanusiaan ini menerjunkan armada mobil tangki dengan menyalurkan sedikitnya 5.000 liter (lima meter kubik) air bersih yang didistribusikan secara ketat, di mana setiap rumah tangga dibatasi mendapatkan jatah maksimal 10 galon guna memastikan aspek pemerataan bantuan.
Ketua PMI Kota Tangerang, Oman Jumansyah, menegaskan bahwa pengerahan logistik ini merupakan respons cepat pasca-adanya laporan kelangkaan air dari unit PMI tingkat kecamatan. Oman menjamin operasi kemanusiaan ini tidak menutup kemungkinan akan digelar secara berkala dan kontinu berdasarkan fluktuasi permintaan faktual dari masyarakat yang terdampak di lapangan.
Dari lini penanggulangan bencana, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem telah merusak struktur air permukaan di berbagai titik lokasi permukiman padat. Bahkan, berdasarkan asesmen kedalaman di lapangan, ditemukan fakta empiris di mana warga harus melakukan pengeboran tanah hingga kedalaman ekstrem menembus lebih dari 20 meter hanya untuk menemukan mata air baru yang layak.
Sebagai langkah preventif jangka panjang apabila eskalasi kekeringan meluas, BPBD kini tengah mematangkan cetak biru penyiapan titik-titik tandon penampungan air terpusat (water stasioning) di tingkat kelurahan. Metode ini dinilai lebih taktis untuk mempermudah distribusi logistik sekaligus mengeliminasi kendala manuver kendaraan tangki besar di gang-gang permukiman yang padat.
“Air-air permukaan sekarang sudah mulai agak sulit untuk didapatkan. Kondisi cuaca sangat memengaruhi kondisi air pada saat ini. Saat ini PMI juga bagian daripada tim reaksi cepat kita. Kami juga telah berkoordinasi dengan Perumda Tirta Benteng apabila terdapat laporan gangguan pasokan akibat persoalan jaringan,” urai Mahdiar memetakan strategi.
Reporter: Ridwan | Editor: Ismail Saleh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu