FLORIDA – Jejak News, Di bawah langit Florida, Presiden AS Donald Trump kembali melempar narasi provokatif yang mengguncang stabilitas geopolitik global. Dalam sebuah pernyataan terbaru kepada awak media, Trump memberi sinyal bahwa kemungkinan serangan militer terhadap Iran tetap terbuka lebar, terutama jika Teheran “berperilaku buruk”. Setelah konfrontasi terbuka selama 40 hari, pemimpin AS ini mengeklaim bahwa Iran kini sedang berada dalam kondisi “hancur lebur” dan kehilangan arah kepemimpinan pasca-tiadanya Ali Khamenei.
Namun, di balik retorika tajam tersebut, para pakar melihat adanya sebuah drama “perang kata-kata” yang sarat dengan kepura-puraan publik. Alex Vatanka dari Middle East Institute menilai bahwa kedua belah pihak belum benar-benar serius masuk ke meja runding. Menurutnya, mustahil menghapus permusuhan selama 47 tahun dalam waktu singkat tanpa adanya langkah-langkah kecil untuk membangun kepercayaan kembali.
Satu titik krusial yang diprediksi menjadi penentu adalah kendali atas Selat Hormuz. Kenneth Katzman dari Soufan Center mengungkapkan bahwa Trump kini mempertimbangkan opsi misi pengawalan kapal tanker komersial sebagai cara memecah kebuntuan tanpa harus memicu perang total. “Jika Iran melakukan kesalahan dengan menyerang misi pengawalan ini, maka eskalasi akan mencapai level yang berbeda,” tegas Katzman.
Saat ini, AS tampak bermain dalam strategi waktu. Washington meyakini bahwa blokade maritim akan mencekik ekonomi Iran hingga ke titik nadir, memaksa mereka menerima 14 poin kesepakatan yang diajukan. Namun, hambatan terbesarnya tetap satu: ketidakpercayaan mendalam Iran terhadap administrasi Trump. Dunia kini menanti, apakah “bahasa spesifik” yang sedang dipertukarkan di balik layar akan berujung pada jabat tangan atau justru dentuman meriam di selat paling strategis di dunia tersebut.
Topik: Konflik AS-Iran, Ketegangan Selat Hormuz, Diplomasi Nuklir Iran
Pewarta: Ananta Fathur| Editor:Ismail Salaeh





