BEKASI – Jejak News, Di balik riuh rendahnya jalur perlintasan Stasiun Bekasi Timur yang sempat didera peristiwa memilukan, terselip sebuah upaya restorasi martabat bagi para pelanggan. PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar memulihkan operasional, melainkan juga menjaga amanah atas barang-barang milik pelanggan yang tertinggal dalam kepanikan insiden tersebut.
Hingga medio Sabtu malam (2/5), pukul 21.24 WIB, manajemen KAI melaporkan progres yang cukup signifikan. Dari total 115 item yang berhasil dievakuasi dan didata oleh tim Lost and Found, sebanyak 60 barang telah kembali ke pelukan pemiliknya. Sementara itu, 55 barang lainnya masih tersimpan rapi dalam dekapan petugas, menanti verifikasi dari para pemilik sah yang mungkin masih dalam masa pemulihan.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menekankan bahwa setiap benda—sekecil apa pun—memiliki nilai sentimental dan fungsional yang tak terukur bagi pemiliknya. “Fokus kami adalah memastikan barang tersebut dapat kembali melalui proses yang tertib dan terverifikasi,” ungkapnya. Ketelitian ini menjadi krusial untuk menghindari kekeliruan di tengah situasi yang masih sarat emosi.
Lebih dari sekadar birokrasi barang hilang, KAI juga memanusiakan pelayanan dengan memperpanjang masa tugas Posko Informasi hingga 11 Mei 2026. Di tempat ini, pelayanan tidak berhenti pada urusan administrasi. Koordinasi layanan kesehatan lanjutan hingga program trauma healing disiagakan secara bertahap. Ini adalah langkah intelek dan humanis untuk memastikan bahwa luka, baik fisik maupun psikis, mendapatkan ruang penyembuhan yang terarah.
Bagi pelanggan yang merasa kehilangan asetnya, Stasiun Bekasi Timur kini bertransformasi menjadi ruang tunggu yang hangat, di mana verifikasi dilakukan dengan hati-hati, memastikan setiap serpihan barang kembali ke tangan yang berhak.
Pewarta: Abdul Sanusi| Editor: Ismail Saleh





