Sapi Jumbo ‘Sambo’ Milik Peternak Lokal Dipinang Presiden Prabowo untuk Idul Adha

Sapi Brangus hitam berbobot 1,1 ton bernama Sambo berdiri sehat di kandang penggemukan Cipondoh, Tangerang, pasca dibeli Presiden Prabowo Subianto untuk kurban Iduladha 1447 H.
Peternak asal Cipondoh, Muhammad Roji, saat menunjukkan sapi Brangus seberat 1,1 ton bernama "Sambo" yang resmi dibeli Presiden RI Prabowo Subianto senilai Rp122 juta untuk kurban masyarakat Kota Tangerang pada Hari Raya Iduladha 1447 H.

Sebuah narasi tentang kedaulatan pangan dan humanisme dalam ibadah. Presiden RI Prabowo Subianto memilih sapi Brangus 1,1 ton bernama “Sambo” dari peternak lokal Tangerang, Muhammad Roji, seharga Rp122 juta untuk kurban Iduladha 1447 H setelah melalui uji klinis ketat bebas PMK dan antraks.
TANGERANGJejak News, Di tengah dinamika pemulihan ekonomi dan penguatan ketahanan pangan nasional, sebuah pesan kuat tentang solidaritas sosial dan penghargaan terhadap dedikasi peternak lokal bergaung dari sudut Kota Tangerang. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dipastikan bakal berkurban satu ekor sapi jumbo untuk masyarakat Kota Tangerang, Banten, pada Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Langkah ini tidak sekadar memenuhi ritus keagamaan, melainkan menjadi simbol kehadiran negara dalam merajut kohesi sosial di tingkat akar rumput.
Sapi kurban pilihan Kepala Negara tersebut bukan sembarang ternak. Sapi jenis Brangus berbobot fantastis mencapai 1,1 ton ini diberi nama “Sambo”. Ia lahir dan tumbuh dari ketekunan sebuah tempat penggemukan sederhana milik Muhammad Roji, yang berlokasi di Kampung Gunung, Kelurahan Cipondoh, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Kehadiran Sambo di kancah nasional menjadi bukti nyata bahwa standardisasi kualitas peternakan rakyat mampu bersaing di level tertinggi.
Ditemui di sela-sela aktivitasnya pada Rabu (13/05/2026), Muhammad Roji menuturkan bahwa Sambo telah menjalani proses penggemukan dengan pendekatan yang sangat humanis dan konsisten selama tiga tahun terakhir. Untuk membentuk struktur fisik prima pada sapi berusia lima tahun tersebut, diperlukan keseimbangan antara disiplin perawatan dan asupan nutrisi yang tepat.
“Perawatannya khusus. Mandi rutin sehari dua kali pagi dan sore untuk memastikan kebersihan. Pakannya kita beri ampas tahu, konsentrat, hingga singkong,” ujar Roji dengan nada bangga.
Aspek humanis dalam pemeliharaan ini berkelindan erat dengan sains veteriner modern. DKP (Dinas Ketahanan Pangan) Kota Tangerang turut mengintervensi pengawasan kesehatan Sambo secara ketat. Sapi ini secara berkala menerima asupan vitamin B Kompleks dan B12, serta mencatatkan riwayat vaksinasi nasional yang lengkap.
Sebelum resmi dipinang oleh orang nomor satu di Indonesia, Sambo wajib melewati protokol penapisan kesehatan yang rigid. Berdasarkan serangkaian uji laboratorium komprehensif terhadap sampel darah, air liur, hingga kotoran, sapi ini dinyatakan negatif dari ancaman penyakit zoonosis berbahaya seperti antraks maupun Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Validasi ilmiah ini menjadi krusial sebagai jaminan keamanan pangan bagi masyarakat penerima manfaat kelak.
Apresiasi Presiden terhadap kerja keras peternak lokal juga mewujud dalam bentuk keadilan ekonomi. Roji membeberkan bahwa nilai jual sapi Brangus tersebut mencapai angka yang sangat menghargai jerih payahnya. “Alhamdulillah, Bapak Presiden telah membeli sapi saya. Harganya mencapai Rp122 juta,” tambahnya.
Meski komitmen kepemilikan telah selesai, Sapi Sambo saat ini masih berada dalam pengawasan intensif di Cipondoh. Mengenai titik lokasi spesifik pemotongan dan distribusi daging kurban di wilayah Kota Tangerang, pihak peternak masih menunggu koordinasi teknis dan instruksi lebih lanjut dari pihak sekretariat kepresidenan agar penyalurannya dapat berlangsung tepat sasaran dan inklusif.
“Untuk pengirimannya Insyaallah ke wilayah Kota Tangerang, namun untuk masjid atau lokasi pastinya saya belum ada perintah,” pungkas Roji.

Melalui pilihan kurban di Cipondoh ini, esensi Iduladha kembali direlevansikan ke dalam ruang publik Indonesia. Ini adalah manifesto tentang bagaimana sebuah ibadah mampu menggerakkan roda ekonomi lokal, menjamin keamanan konsumsi melalui sains, dan pada akhirnya, mengantarkan pesan bahwa keadilan sosial harus bermula dari perhatian terhadap hal-hal mendasar di sekitar kita.
Pewarta: Bagus| Editor: Ismail Saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu