Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan Hadiri Pelantikan Kabinet Baru Presiden Prabowo

Kehadiran Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan dalam pelantikan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat di Istana Negara.
Sebuah potret inklusivitas politik saat tokoh-tokoh kritis nasional hadir menyaksikan pelantikan rekan seperjuangan, Jumhur Hidayat, sebagai bagian dari penguatan struktur pemerintahan Prabowo-Gibran.
JAKARTA, -Jejak News, Istana Kepresidenan menjadi saksi bisu sebuah perhelatan politik yang sarat akan makna rekonsiliasi dan inklusivitas. Pada Senin (27/4/2026), Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik jajaran menteri dan pejabat strategis baru dalam balutan atmosfer yang berbeda. Kehadiran tokoh intelektual kritis, Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan, di tengah prosesi pelantikan mencuri perhatian publik dan menjadi sinyal kuat mencairnya polarisasi politik nasional.
Kedua tokoh yang selama ini dikenal sebagai kritikus tajam pemerintah tersebut hadir sebagai bentuk dukungan personal dan moral bagi Jumhur Hidayat. Aktivis buruh senior tersebut kini dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri Lingkungan Hidup, menggantikan Hanif Faisol Nurofiq yang bertransformasi peran menjadi Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Rocky Gerung yang tampil bersahaja dengan batik cokelat, bersama Syahganda Nainggolan, tampak berbaur dengan tamu undangan lainnya. Usai prosesi pembacaan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 51/P hingga 50/PPA Tahun 2026, keduanya tertangkap kamera bersalaman dengan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sebuah gestur humanis yang merefleksikan kedewasaan berdemokrasi.
Selain posisi menteri, pelantikan ini juga mengukuhkan sejumlah nama besar pada posisi kunci birokrasi:
  • M. Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah.
  • Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
  • Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia.
  • Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Langkah berani Presiden Prabowo merangkul figur dari spektrum aktivis seperti Jumhur Hidayat dinilai sebagai upaya intelek untuk menyerap aspirasi akar rumput langsung ke dalam sistem eksekutif. Penataan ulang kabinet ini bukan sekadar rotasi administratif, melainkan strategi besar untuk memperkuat komunikasi pemerintah dan ketahanan pangan nasional di masa depan.
Kehadiran para tokoh kritis di jantung kekuasaan hari ini memberikan harapan baru bagi publik tentang gaya kepemimpinan yang lebih terbuka terhadap dialog dan perbedaan pendapat demi kemajuan bangsa.
Pewarta: Ryan Mihardja | Editor: Ismail Saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu