Evaluasi Teknis Bendungan Polor Jadi Taruhan Keselamatan Warga Candulan

Aliran air Kali Angke yang melintasi kawasan Bendungan Polor di Kampung Candulan, Kecamatan Cipondoh. Dinas PUPR Kota Tangerang bersama BBWS Ciliwung-Cisadane resmi melakukan evaluasi teknis terhadap struktur bangunan ini guna mengurai hambatan debit air yang kerap memicu banjir musiman.

Pemerintah Kota Tangerang mendukung penuh langkah strategis BBWS Ciliwung-Cisadane melakukan evaluasi teknis terhadap Bendungan Polor di Cipondoh. Infrastruktur ini diidentifikasi secara matematis menjadi penghambat utama debit air Kali Angke yang memicu banjir langganan di pemukiman warga Kampung Candulan.
TANGERANGJejak News — Komitmen penataan ruang berbasis mitigasi bencana kembali menjadi prioritas di wilayah urban penyangga ibu kota. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap rencana evaluasi teknis Bendungan Polor yang terletak di Kampung Candulan, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Langkah ini diambil sebagai respons konkret intervensi kedaruratan infrastruktur guna menghentikan siklus banjir tahunan yang menjerat kawasan pemukiman padat penduduk tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, menegaskan bahwa rencana peninjauan ulang struktur bendungan ini merupakan proyek strategis yang diinisiasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane. Langkah teknokratis ini dinilai mendesak untuk memulihkan fungsi hidrologis aliran sungai.
“Kami menyambut baik rencana BBWS Ciliwung-Cisadane yang akan mengambil tindakan evaluasi terkait keberadaan Bendungan Polor. Secara perhitungan matematis, struktur ini terbukti menjadi penghambat laju debit air Kali Angke, sehingga memicu luapan ekstrem ke pemukiman sekitar,” ujar Taufik saat dikonfirmasi pada Rabu (13/05/2026).
Berdasarkan data pemantauan fisik terintegrasi di lapangan, Bendungan Polor dituding menjadi titik sumbatan krusial (bottleneck) yang membatasi daya alir air Kali Angke menuju kawasan hilir secara optimal. Ketika intensitas curah hujan di hulu meningkat, ketidakmampuan bendungan dalam mengalirkan volume air secara cepat langsung berdampak pada genangan parah di Kampung Candulan.
Pendekatan penyelesaian masalah ini dipastikan tidak akan berjalan parsial. Taufik menambahkan bahwa perumusan solusi akhir atas eksistensi bendungan tersebut akan melibatkan kajian ilmiah lintas sektoral guna mengantisipasi dampak sosial dan lingkungan yang lebih luas.
“Hasil evaluasi teknis nantinya akan dibahas bersama-sama dengan pemangku kepentingan lintas sektoral. Proses kajian analitisnya saat ini masih terus berjalan intensif,” imbuhnya.
Sebagai langkah jangka panjang yang komprehensif, Pemkot Tangerang bersama BBWS telah merancang masterplan normalisasi Kali Angke secara masif. Proyek perluasan kapasitas tampung sungai ini akan difokuskan pada beberapa koridor rawan, meliputi segmen Bendungan Polor hingga Jembatan Merah, Jembatan Merah menuju Ciledug Indah, serta interkoneksi Ciledug Indah hingga kawasan Graha Raya.
Langkah taktis ini merefleksikan pergeseran paradigma penanganan banjir di perkotaan, dari sekadar manajemen bencana darurat menuju rekayasa infrastruktur yang berkelanjutan demi menjamin hak rasa aman warga kota.

Evaluasi Bendungan Polor bukan sekadar urusan memindahkan beton atau mengeruk lumpur, melainkan manifesto kehadiran negara dalam merestorasi keseimbangan alam di tengah masifnya laju urbanisasi. Keberhasilan proyek kolaboratif antara Pemkot Tangerang dan BBWS Ciliwung-Cisadane ini akan menjadi tolok ukur baru ketangguhan tata kota Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis iklim global.
Pewarta: Kemal| Editor: Ismail Saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu