Kala Sang Surya Tenggelam, Kenangan Abadi Soraya Haque Bersama Mendiang Maestro Guruh Soekarnoputra

Potret kebersamaan peragawati senior Soraya Haque bersama mendiang seniman besar Guruh Soekarnoputra pada sebuah acara kebudayaan Swara Maharddhika.
Soraya Haque mengenang petuah dan wasiat terakhir mendiang Guruh Soekarnoputra yang berpulang pada Sabtu (26/9/2026) setelah dirawat intensif di RS MRCCC Siloam Semanggi, Jakarta.
JAKARTA— JEJAK-NEWS.COM, Dunia seni budaya dan panggung nasional diselimuti awan duka yang mendalam. Putra bungsu Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, dilaporkan telah tutup usia pada Sabtu (26/9/2026) dini hari pukul 04.16 WIB. Tokoh seni legendaris ini mengembuskan napas terakhirnya di  MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Jakartadalam usia 73 tahun setelah mendapatkan perawatan medis intensif. 
Kepergian sang maestro menyisakan kepedihan mendalam sekaligus warisan karya kolosal yang abadi bagi generasi penerus bangsa. Di tengah gelombang duka nasional, ingatan kolektif tentang dedikasi sang tokoh dihidupkan kembali melalui kesaksian humanis orang-orang terdekatnya, termasuk peragawati senior, Soraya Haque. 
Melalui akun Instagram resminya, ,  @sorayahaque Soraya membagikan potret kenangan serta rekam jejak hubungan erat yang telah terjalin selama puluhan tahun. Pertemuan historis kedua keluarga ini berawal secara tidak sengaja di udara pada tahun 1978, ketika orang tua mereka berada dalam satu penerbangan ibadah haji.
Momentum tersebut menjadi jembatan bagi Ibu Fatmawati Soekarno untuk mengajak Soraya serta kakaknya, Marissa Haque, bergabung ke dalam kelompok seni legendaris Swara Maharddhika.
Di bawah bimbingan langsung Guruh, Soraya mengaku mendapatkan penggemblengan mental dan karakter yang membentuk perjalanan hidupnya sejak usia remaja. Soraya merinci empat pilar kepemimpinan utama yang ditanamkan oleh sang mentor:
    1. Pembentukan Karakter: Penempaan mental kepemimpinan yang tangguh dan karakter pantang menyerah dalam menghadapi tantangan zaman.
    2. Kecintaan Kebudayaan: Penanaman rasa cinta dan apresiasi yang mendalam terhadap kekayaan warisan kebudayaan Nusantara.
    3. Standar Estetika Tinggi: Pembentukan selera seni tingkat tinggi serta kedisiplinan estetika dalam memproduksi karya pertunjukan panggung.
    4. Ekspresi Nasionalisme: Penanaman jiwa nasionalisme yang kokoh melalui medium ekspresi seni pertunjukan.

“Ini kehebatan Guruh Soekarno sebagai pemimpin, pelatih, sekaligus mentor anak-anak muda. Ada satu kalimat yang terus menempel di kepala saya, ‘Suatu saat nanti siapa pun orangnya, di bidang apa pun, dia akan menjadi seseorang yang memimpin dan berbeda,’” tulis Soraya mengenang petuah bermakna dari sang guru.
Pertemuan fisik terakhir antara Soraya dan Guruh terjadi pada 27 Agustus 2026, kala Soraya bertindak sebagai pembawa acara dalam peresmian paduan suara Swara Maharddhika. Dalam momen emosional tersebut, almarhum sempat merangkul hangat Soraya sembari membisikkan sebuah pesan reflektif mengenai pudarnya identitas budaya perempuan modern Indonesia.
Diskusi mendalam mengenai busana tradisional dan konde perempuan Indonesia menjadi perbincangan terakhir yang sayangnya belum sempat diwujudkan oleh keduanya.
“Ia memeluk dan berbisik, ‘Terima kasih, Aya. Kalau sudah tidak sibuk saya mau diskusi sama kamu tentang perempuan Indonesia dan konde (yang mulai ditinggalkan). Kapan kita bisa seperti perempuan Jepang dengan kimononya?’” ungkap Soraya menirukan amanat terakhir sang maestro seni.
Kini, pelopor pertunjukan kolosal tanah air itu telah tiada, namun komitmennya terhadap marwah budaya Indonesia akan terus hidup melalui karya-karyanya yang melintasi generasi.
Reporter: Juni Fitrianingsih| Editor: Ismail Saleh,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu