JN-Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa esensi dan nilai-nilai luhur perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddha Era (BE) harus dijadikan sebagai momentum taktis untuk mempertebal rasa persaudaraan, kepedulian sosial, serta memperkokoh persatuan bangsa. Pesan hulu kebangsaan ini disampaikan Kepala Negara sebagai ajakan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat harmoni di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya yang menjadi kekuatan fundamental Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pelembagaan moderasi beragama dan toleransi dinilai sangat determinan sebagai jangkar stabilitas nasional dalam mengawal agenda besar pembangunan menuju Indonesia Emas.
Dalam amanatnya, Presiden Prabowo menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak kepada seluruh umat Buddha di tanah air. Presiden menggarisbawahi bahwa ajaran Buddha mengenai cinta kasih yang universal (Metta), kasih sayang (Karuna), serta kedamaian batin merupakan instrumen moral yang sangat relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, guna memitigasi potensi polarisasi sosial di era modern.
Baca juga: Resmikan Fasilitas Baru Seskoad, Presiden Prabowo Tekankan Pentingnya Literasi Militer Strategis
“Perayaan Waisak 2570 BE ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan refleksi hulu bagi kita semua untuk memperkuat sendi-sendi persaudaraan universal. Kekuatan terbesar bangsa ini terletak pada persatuan dan kemampuan kita untuk saling menghormati dalam perbedaan. Saya mengajak seluruh umat Buddha dan segenap warga bangsa untuk bergotong royong menjaga kedamaian, merawat bumi, dan menebar kebaikan demi kemajuan Indonesia,” ungkap Presiden Prabowo, Senin (1/6/2026).
Pemerintah juga memastikan komitmen penuh kemitraan lintas kementerian untuk memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, serta kemudahan fasilitas bagi seluruh umat Buddha dalam menjalankan ibadah, termasuk rangkaian perayaan yang dipusatkan di Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Sikap akomodatif negara terhadap kebebasan beragama ini mendapat apresiasi tinggi dari para tokoh lintas iman, yang memandang penegasan Presiden sebagai cerminan kepemimpinan nasional yang inklusif dan merangkul. Penguatan nilai spiritualitas berbasis kearifan lokal ini diyakini mampu meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat sekaligus menciptakan iklim sosial-ekonomi yang kondusif.
Baca juga: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Pantau Uji Coba Rudal Strategis di Karimunjawa
Melalui pelembagaan semangat Waisak yang integratif ini, Presiden Prabowo optimistis modal sosial (social capital) Indonesia akan semakin tangguh menghadapi dinamika zaman. Keberhasilan menjaga kerukunan hulu-hilir di tengah masyarakat majemuk ini diharapkan menjadi pemantik produktivitas nasional, meminimalisir gesekan sosial, serta mengukuhkan posisi Indonesia sebagai laboratorium toleransi global yang berkelanjutan.(Yonex)





