WASHINGTON AS — Jejak News, Eksistensi dan reputasi teknokrat asal Indonesia di panggung arsitektur keuangan global kembali mendapat pengakuan tertinggi. Bank Dunia secara resmi menunjuk mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, sebagai Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk proses pengisian kembali pendanaan (replenishment) ke-22 Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association / IDA).
Langkah strategis ini menempatkan figur Indonesia di episentrum perumusan kebijakan bantuan multilateral, sebuah penegasan bahwa kepemimpinan tepercaya adalah komoditas langka yang sangat dibutuhkan dunia hari ini.
Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) merupakan garda terdepan sekaligus salah satu jangkar pendanaan terbesar di dunia yang didedikasikan secara khusus untuk memerangi kemiskinan ekstrem di negara-negara berpendapatan rendah. Lembaga ini bergerak dengan menyalurkan instrumen keuangan berupa pinjaman berbunga nol atau sangat rendah, serta hibah langsung untuk mengintervensi program-program pertumbuhan ekonomi, penguatan ketahanan sosiologis, dan perbaikan kesejahteraan kaum marginal.
Dalam keterangan resmi yang dirilis di Washington AS, Bank Dunia menegaskan bahwa Sri Mulyani dipilih langsung melalui seleksi ketat oleh komite pencarian independen yang merepresentasikan suara negara-negara donor sekaligus negara peminjam. Ia diamanatkan untuk memimpin proses penggalangan komitmen pendanaan IDA22 berdampingan dengan Paschal Donohoe, yang menjabat sebagai Managing Director sekaligus Chief Knowledge Officer Grup Bank Dunia.
“Pengalaman tersebut memberinya keahlian mendalam dalam kebijakan pembangunan maupun pembiayaan multilateral. Sri Mulyani juga pernah masuk dalam daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia versi Forbes,” tulis pernyataan resmi Bank Dunia.
Penunjukan ini dinilai sangat beralasan mengingat profil Sri Mulyani yang sarat akan portofolio global. Selain saat ini tercatat aktif sebagai Blavatnik World Leaders Fellow 2025-2026 di University of Oxford, ia merupakan perempuan pertama dalam sejarah yang memegang kendali Kementerian Keuangan Indonesia, serta sempat menduduki kursi Managing Director dan Chief Operating Officer Bank Dunia.
Tantangan di depan mata bagi duet Sri Mulyani dan Donohoe tidaklah ringan. Siklus replenishment IDA22 ini dijadwalkan akan memulai genderang konsolidasinya secara formal pada pertemuan Mid-Term Review di Tashkent, Uzbekistan, pada Desember 2026. Pertemuan penentu atau pledging meeting untuk mengunci komitmen dana dari para donor diproyeksikan bergulir pada Desember 2027.
Nantinya, akumulasi modal yang berhasil dihimpun dalam skema IDA22 ini akan menjadi penentu krusial bagi ketersediaan pembiayaan konsesional yang akan disalurkan ke 78 negara termiskin di dunia hingga target tahun 2031. Sebagai catatan historis, sejak didirikan pada tahun 1960, IDA telah memobilisasi dana investasi bernilai fantastis, yakni lebih dari US$632 miliar yang didistribusikan ke 115 negara berkembang.
Ketika kemiskinan global membutuhkan lebih dari sekadar retorika kesejahteraan, penunjukan Sri Mulyani membuktikan bahwa dunia masih mempercayai kalkulasi berbasis kompetensi. Bantuan multilateral bukan sekadar urusan membagi-bagikan hibah secara cuma-cuma, melainkan seni menegosiasikan keadilan ekonomi global di mana negara-negara miskin tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam utang, melainkan harus dituntun keluar dari jebakan kemiskinan struktural.
Reporter: Arumka| Editor: ARMY





