JAKARTA —JEJAK-NEWS.COM, Penemuan satu pucuk senjata api organik jenis Franchi SPAS-15 kaliber 12-gauge di dalam lingkungan sekolah swasta kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, membuka tabir ancaman yang jauh lebih mengerikan dari sekadar pelanggaran hukum administrasi kepemilikan senjata. Berdasarkan analisis taktis dan metalurgi militer, senjata yang ditemukan di ruang kerja mantan Ketua Yayasan berinisial IWD ini dikategorikan sebagai combat shotgun (senapan sebar tempur) berdaya hancur tinggi.
Senjata ini diproduksi oleh pabrikan Luigi Franchi S.p.A asal Italia dan didesain khusus untuk kebutuhan militer, penegakan hukum (law enforcement), serta operasi jarak dekat (Close Quarters Battle / CQB).
Aparat kepolisian dari Polres Metro Jakarta Selatan kini tengah melakukan penelusuran mendalam terhadap kepemilikan senjata mematikan ini. Fakta awal menunjukkan senjata tersebut terdaftar atas nama mendiang DS, mantan Direktur PT Lokta Karya Perbakin yang telah wafat sejak tahun 2020. Penemuan instrumen tempur sedahsyat ini di area institusi pendidikan memicu alarm keras mengenai urgensi keamanan ruang publik anak-anak.
Anatomi Letalitas: Fleksibilitas Mekanisme Taktis (Dual-Mode)
Senapan sebar tempur Franchi SPAS-15 mengusung keunggulan hibrida yang sangat adaptif di medan tempur urban. Senjata ini dibekali dengan Fitur Sistem Operasi Ganda (Dual-Mode System) unik yang memungkinkan operator atau penembak mengubah mode penembakan secara instan hanya dalam hitungan detik melalui selektor di pelindung laras (foregrip):
-
- Mode Gas-Operated Semi-Automatic: Memanfaatkan tekanan balik gas buang hasil pembakaran amunisi untuk menggerakkan pendorong baut berputar (rotating bolt) secara otomatis. Mode ini mengizinkan pengguna memuntahkan rentetan tembakan fatal secepat tarikan pelatuk tanpa jeda kokang.
- Mode Pump-Action (Manual Pompa): Mekanisme yang digerakkan secara manual dengan menarik pembungkus laras ke belakang. Fungsi mekanis manual ini mutlak diperlukan dalam operasi taktis untuk menembakkan amunisi bertekanan rendah (low-pressure ammunition)—seperti peluru karet, kantong kacang pejal (bean bags), hingga gas air mata—yang energinya tidak cukup kuat untuk memicu siklus otomatisasi gas.
Efisiensi Pasokan Amunisi Berdaya Rusak Tinggi
Berbeda total dengan senapan sebar berburu konvensional yang mengharuskan pengisian peluru satu per satu ke dalam tabung tubular di bawah laras, SPAS-15 menggunakan sistem pengumpanan modern yang memangkas waktu pengisian ulang (reloading time) secara drastis dalam situasi baku tembak intensif. Senjata ini ditenagai oleh magasin kotak eksternal (detachable box magazine) dengan kapasitas bawaan pabrik sebesar 6 hingga 8 butir peluru kaliber 12-gauge.
Daya hancur dari proyektil shotgun berlaras mulus (smoothbore) ini berada pada tingkatan masif untuk skenario pertempuran koridor tertutup. Kaliber ini mampu melontarkan proyektil jenis 00 Buckshot (berisi 9 bola timah besar) atau Slugs (proyektil timah tunggal pejal). Dalam jarak dekat hingga menengah (0–50 meter), satu hentakan tembakan buckshot memiliki efek balistik destruktif yang setara dengan rentetan sembilan peluru pistol kaliber 9mm yang menghantam target secara simultan.
Sementara amunisi jenis Slugs mampu menghantarkan energi kinetik terpusat untuk menjebol rompi antipeluru standar, blok mesin kendaraan ringan, hingga menghancurkan struktur kunci pintu besi kokoh dalam operasi pendobrakan (breaching).
Estimasi Letalitas di Ruang Tertutup Koridor Sekolah
Jika diaplikasikan pada koridor bangunan publik dengan struktur dinding partisi non-militer, SPAS-15 memicu risiko kerugian sekunder (collateral damage) yang sangat fatal. Di ruang tertutup atau koridor sekolah berjarak 40 meter dari ruang kelas, penggunaan senjata ini memiliki efek sebaran (pellet spread) yang sangat luas. Begitu keluar dari moncong laras, bola-bola timah amunisi sebar akan melebar membentuk pola kerucut horizontal.
Energi kinetik masif kaliber 12-gauge ini mampu menembus dinding partisi kayu lapis, gipsum sekat ruangan, pintu kelas, hingga papan tulis dengan mudah. Karakteristik ini membuat target yang berlindung di balik pembatas ruangan semi-permanen tetap berada dalam kondisi bahaya tinggi, dan satu tembakan berpotensi melumpuhkan beberapa target sekaligus dalam garis lurus sebaran peluru. Hal inilah yang memicu kekhawatiran mendalam, mengingat jarak penemuan gudang senjata dengan ruang kelas aktif siswa hanya berkisar 40 meter.
Reporter: Limbong| Editor: ARMY





