Polisi Sterilkan Bunker Sekolah Swasta Kebayoran Lama

Garis polisi terpasang di depan pintu ruang kerja mantan ketua yayasan sekolah swasta di Kebayoran Lama, tempat ditemukannya ratusan senjata api dan narkoba.
DILOKALISIR: Aparat kepolisian dari Polres Metro Jakarta Selatan melakukan penjagaan dan sterilisasi di area gudang dokumen serta ruang rahasia milik mantan ketua yayasan berinisial IWD, Jumat (7/8/2026).
JAKARTAJEJAK-NEWS.COM, Misteri ruang bawah tanah di sebuah sekolah swasta elite di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, akhirnya mulai tersingkap. Aparat kepolisian dipastikan telah berhasil menembus dan memeriksa ruangan tersembunyi yang diduga menjadi bunker penyimpanan komoditas ilegal di lingkungan institusi pendidikan tersebut. Langkah sterilisasi dan investigasi saintifik kini dipacu oleh Polres Metro Jakarta Selatan, berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya dan Mabes Polri, guna mengurai benang kusut kepemilikan ratusan senjata api tempur serta narkotika yang tersimpan di jantung area sekolah.
Misteri Bunker di Balik Otoritas Tunggal mantan Ketua Yayasan
Kuasa Hukum Yayasan, Hermawanto, mengonfirmasi bahwa aparat penegak hukum telah melakukan pengosongan dan pengecekan menyeluruh terhadap bunker tersembunyi tersebut pada Rabu (5/8/2026). Fakta mengejutkan terkuak dari hasil penggeledahan awal; ruang bawah tanah tersebut sempat dijadikan tempat penyimpanan narkotika dan senjata api laras panjang.
“Nah, yang kemarin ditemukan di bunker itu adalah narkoba sama senjata laras,” ungkap Hermawanto saat memberikan keterangan pers di lokasi sekolah, Jumat (7/8/2026).
Hermawanto meralat spekulasi awal yang menyebut ruang tersebut belum bisa diakses. Ia menegaskan bahwa saat ini kondisi bunker telah steril dari barang bukti. Keberadaan ruang rahasia ini terisolasi dari aktivitas akademik karena akses masuknya dikuasai penuh oleh mantan ketua yayasan berinisial IWD. Seluruh tenaga pendidik dan pengurus baru sama sekali tidak mengetahui kapan dan untuk apa struktur bawah tanah itu dibangun.
Di pihak lain, kubu IWD melalui kuasa hukumnya, Alhadid Endar Putra, membantah keras narasi keberadaan “bunker”. Alhadid mengklaim ruang bawah tanah tersebut secara fungsional hanyalah area basement yang digunakan sebagai gudang penyimpanan dokumen sekolah dan area parkir kendaraan.
Penemuan Ratusan Senjata Api dan Penolakan Alibi Ekstrakurikuler
Kasus ini mencuat ke permukaan pasca-pemecatan IWD atas dugaan penggelapan dana yayasan. Dalam penggeledahan di ruang kerja IWD dan gudang dokumen, ditemukan akumulasi persenjataan yang mengerikan untuk ukuran lingkungan sekolah: 995 pucuk senjata.
Spesifikasi senjata yang ditemukan mencakup:
    • Senjata api taktis kaliber 5.56, kaliber 40, dan 9 mm 
    • Senjata jenis Walther, kaliber 22, hingga senapan serbu Karabin M4 
    • Alat fabrikasi (pembuat) peluru mandiri 
    • Wadah penyimpan peluru (magazine) jenis Glock 
    • Ratusan amunisi siap tembak 
    • Tiga bungkus narkotika jenis ganja dan sabu, serta dokumen visual pornografi 

Pihak IWD berdalih bahwa ratusan senjata—yang mereka klaim sebagai airsoft gun milik PT Lokta Karya Perbakin—merupakan inventaris lama eks-atlet Southeast Asian Shooting Association (SEASA) Championship 2008. Senjata itu diklaim sengaja disimpan sejak 2020 untuk rencana pembentukan ekstrakurikuler (ekskul) menembak yang mandek karena penanggung jawabnya, Suryo, meninggal dunia.
Alibi tersebut langsung dipatahkan oleh pihak yayasan. “Kami sudah tanya kepada guru-guru yang sudah lama di sini, yang sudah bekerja sejak 2011, 2010… Semua menyatakan tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak. Sama sekali tidak pernah ada,” tegas Hermawanto.
Pihak yayasan juga memastikan tidak ada satu pun guru atau staf pengajar aktif yang terlibat dalam konspirasi penyimpanan senjata ini, mengingat otoritas kunci ruangan sepenuhnya dipegang oleh IWD sebelum ia diberhentikan dan stafnya melarikan diri. Terkait kepemilikan senjata api tempur atas nama DS yang diketahui telah wafat sejak 2020, pihak yayasan menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk membongkar aktor intelektual di baliknya.
Saat ini, Polres Metro Jakarta Selatan telah menerbitkan Laporan Polisi Model A untuk memulai penyelidikan intensif. Sementara hampir seribu pucuk senjata tersebut kini telah diamankan dan dititipkan ke Wasendak Polda Metro Jaya. Pihak sekolah memastikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak terganggu karena lokasi penemuan berjarak aman, sekitar 40 meter dari ruang kelas.
Sekolah seharusnya menjadi laboratorium akal sehat, tempat di mana etika diproduksi dan peradaban disemai. Namun, ketika sebuah ruang akademis menyembunyikan hampir seribu pucuk senjata api, karabin M4, mesin pembuat peluru, hingga narkotika di bawah lantainya, kita sedang menyaksikan keruntuhan moralitas yang paling vulgar. Ada kontradiksi fundamental di sini, di atas tanah anak-anak diajarkan membaca buku, di bawah tanah kekuasaan gelap menimbun instrumen pencabut nyawa .
Jangan coba mengelabui publik dengan eufemisme dungu seperti ‘rencana ekskul menembak yang tertunda’ atau ‘sekadar gudang dokumen’. Senjata serbu kaliber 5.56 dan alat pembuat peluru bukanlah kurikulum pendidikan, itu adalah logistik kecemasan. Ketika birokrasi sekolah berubah menjadi debarkasi barang terlarang, di situlah fungsi pengawasan negara telah mati suri.
Kasus ini bukan sekadar urusan hukum pidana antara penyidik dan seorang mantan ketua yayasan, tapi ini adalah alarm keras bahwa kejahatan sistemik telah berhasil menyusup ke wilayah paling suci dari masa depan bangsa. Polisi harus membongkar ini sampai ke akar-akarnya, tanpa kompromi, karena membiarkan ruang gelap ini tetap abu-abu adalah bentuk kejahatan terhadap akal sehat publik.
Reporter: Ananta Fathur | Editor: ARMY

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu