PONTIANAK – Jejak News, Polemik penilaian tidak adil dalam babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memasuki babak baru yang penuh dengan pesan moral dan kedewasaan berdemokrasi [1]. Di tengah keputusan mengejutkan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI yang hendak menggelar pertandingan final ulang, pihak SMAN 1 Pontianak secara resmi menyatakan menarik diri dan memilih jalan rekonsiliasi demi menjaga marwah pendidikan .
Langkah ini diambil setelah Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, mengumumkan rencana restrukturisasi kompetisi pasca-viralnya gelombang protes masyarakat di media sosial terkait independensi dewan juri [1]. Muzani menegaskan bahwa pihaknya telah memanggil serta menjatuhkan teguran keras kepada dua oknum juri internal dari Setjen MPR RI, Dyastasita dan Indri Wahyuni [1]. Selain menyampaikan permohonan maaf kelembagaan, MPR RI awalnya menjadwalkan ulang laga final dengan jaminan pengawasan dari dewan juri independen.
Namun, alih-alih memanfaatkan momentum tersebut untuk merebut kembali gelar juara, SMAN 1 Pontianak justru memperlihatkan sikap kepemimpinan yang humanis dan ksatria. Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, menegaskan bahwa esensi dari protes yang mereka layangkan sebelumnya bukanlah untuk menganulir kemenangan sekolah lain ataupun meruntuhkan kredibilitas institusi MPR, melainkan murni sebagai bentuk edukasi untuk meminta klarifikasi transparansi penilaian.
Dengan jiwa besar, SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan ikut berpartisipasi dalam final ulang dan memilih memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai delegasi sah Kalimantan Barat di tingkat nasional [1]. Langkah ini menuai simpati luas dari publik yang menilai nilai-nilai luhur Pancasila justru berhasil dipraktikkan secara nyata oleh para siswa di luar panggung perlombaan.
Pewarta: Bagus | Editor: Ismail Saleh





