Jet Tempur Riyadh dan Kuwait Gempur Milisi Pro-Iran di Irak

Peta simulasi serangan udara taktis di perbatasan Teluk-Irak dan jet tempur siluman yang dikerahkan dalam patroli wilayah udara Timur Tengah.
Eksklusif: Mengikisnya Kepercayaan pada Washington, Jet tempur bersiaga di landasan pacu di kawasan Teluk, di tengah meningkatnya ketegangan militer mandiri Arab Saudi dan Kuwait terhadap milisi regional pro-Iran.( DOK: AFP)

DUBAI, UNI EMIRAT ARAB – Dinamika geopolitik Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial dan berbahaya. Negara-negara Teluk, yang selama puluhan tahun bersandar pada payung keamanan Washington, mulai mengambil tindakan militer mandiri yang agresif. Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan telah meluncurkan rangkaian serangan udara rahasia ke wilayah Irak untuk menyasar kelompok paramiliter yang didukung oleh Iran.
Langkah militer sepihak yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi ini menjadi sinyal mosi tidak percaya terdalam dari sekutu dekat Amerika Serikat (AS) terhadap efektivitas jaminan keamanan Gedung Putih di kawasan. Mengutip laporan investigasi geopolitik teranyar, operasi berkode rahasia ini menjadi “respons independen” terhadap penetrasi ancaman yang terus merembes ke wilayah kedaulatan negara-negara Teluk, di tengah persepsi memudarnya komitmen perlindungan militer konvensional dari Pentagon.
Meskipun Arab Saudi dan Kuwait menjadi rumah bagi pangkalan militer garis depan AS, kedua negara monarki ini terus menjadi target serangan drone dan rudal proksi. Serangan tersebut merupakan aksi balasan Iran atas eskalasi militer AS-Israel yang meletus sejak Februari lalu. Investigasi intelijen regional menunjukkan bahwa ratusan wahana terbang tak berawak (drone) yang menghantam infrastruktur vital Teluk berasal dari wilayah Irak, spesifiknya dikoordinasikan oleh kelompok Kataib Hezbollah yang berbasis di selatan Irak.
Sesaat sebelum gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran tercapai pada awal April, jet tempur Arab Saudi dilaporkan telah menghantam episentrum logistik milisi pro-Iran di Irak. Di saat yang sama, otoritas keamanan di Baghdad mengonfirmasi sedikitnya dua kali serangan rudal presisi diluncurkan dari wilayah Kuwait untuk menghancurkan posisi-posisi penting milik Kataib Hezbollah. Langkah ofensif ini melompati birokrasi komando militer AS yang biasanya mendominasi ruang udara Teluk.
Ketegangan diplomatik sebenarnya telah mencapai puncaknya pada bulan Maret ketika Arab Saudi dan Kuwait memberikan ultimatum keras kepada pemerintah Baghdad agar segera menertibkan milisi pro-Iran di wilayahnya. Kuwait tercatat telah memanggil perwakilan diplomatik Irak sebanyak tiga kali, sementara Arab Saudi melakukan langkah serupa terhadap duta besar Irak pada bulan lalu sebagai bentuk protes atas pembiaran aktivitas militer lintas batas.
Para pengamat internasional menilai tindakan berani negara-negara Teluk ini dipicu oleh kekecewaan mendalam terhadap Washington yang dianggap kerap memulai konflik regional tanpa konsultasi strategis dengan sekutu lokalnya. Hubungan transaksional ini dinilai tidak lagi mengakomodasi kepentingan nasional negara Teluk yang berada di garis depan pertempuran.
Khaled Almezaini, seorang profesor madya politik dari Universitas Zayed di Abu Dhabi, menilai bahwa eskalasi ini memicu gugatan serius atas arsitektur keamanan usang di Timur Tengah. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah negara-negara Teluk benar-benar mendapatkan jenis kemitraan strategis yang setara, atau justru ruang udara mereka dikorbankan ketika Amerika Serikat terlibat secara militer di kawasan ini.
Seiring meningkatnya tensi, keberadaan pangkalan militer AS di Teluk kini mulai dipertanyakan oleh para pengambil kebijakan regional—apakah berfungsi sebagai perisai pelindung atau justru magnet konflik yang membahayakan stabilitas nasional mereka.
Pewarta: Tim Jurnalisme Internasional | Editor: Ismail Saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu