JEJAK-NEWS.COM-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia meningkatkan status kesiapsiagaan nasional secara maksimal guna menghadapi ancaman krisis kesehatan akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah titik krusial di berbagai wilayah nusantara. Berdasarkan pemantauan satelit dan laporan lapangan, fenomena cuaca kering ekstrem tahun ini telah memicu lonjakan titik panas (hotspot) yang berpotensi memproduksi kabut asap lintas batas serta menurunkan kualitas udara secara drastis hingga mencapai ambang batas kategori berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.
Sebagai langkah mitigasi taktis dan respons cepat, Kemenkes resmi mengerahkan serta memobilisasi sebanyak 848 tenaga kesehatan profesional yang terdiri dari dokter umum, perawat, tenaga farmasi, hingga petugas surveilans epidemiologi. Ratusan tenaga medis ini disebar secara merata ke posko-posko kesehatan darurat, puskesmas siaga, serta rumah sakit rujukan di provinsi-provinsi prioritas yang paling parah terpapar polusi asap. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif menekan risiko lonjakan kasus kesakitan dan kematian akibat paparan partikulat polusi udara berukuran mikro.
Data pemantauan terkini menunjukkan adanya tren peningkatan signifikan pada kunjungan pasien dengan keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, perburukan gejala asma, hingga pneumonia ringan di fasilitas pelayanan kesehatan daerah terdampak. Guna mengantisipasi hal tersebut, Kemenkes menerapkan strategi perlindungan berlapis yang memprioritaskan kelompok rentan, yakni balita, anak-anak usia sekolah, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular dan pernapasan kronis.
Baca juga: Bayi Prematur Selamat di Tengah Gempa Nagekeo, Kemenkes Prioritaskan Penyelamatan Pasien
Selain pengerahan sumber daya manusia di bidang medis, pemerintah pusat juga bergerak cepat dengan mendistribusikan logistik kesehatan darurat ke Dinas Kesehatan di daerah-daerah rawan. Bantuan logistik esensial yang dikirimkan mencakup ratusan ribu masker standar khusus penaring partikulat, obat-obatan generik untuk penanganan ISPA, tabung oksigen portabel, konsentrator oksigen, alat ukur fungsi paru, hingga suplemen vitamin penambah daya tahan tubuh.
Koordinasi lintas sektor terus diperkuat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah, serta unsur TNI-Polri agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara terpadu dari hulu ke hilir. Melaluioptimalisasi fungsi Public Safety Center (PSC) 119 dan layanan kegawatdaruratan medis 24 jam, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk senantiasa memantau indeks standar pencemaran udara (ISPU), membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, serta segera mendatangi posko kesehatan terdekat apabila mengalami sesak napas atau gangguan kesehatan lain akibat kabut asap.(Yusuf)
Baca juga: Kemenkes Siapkan Rumah Sakit Lapangan di Ruteng, Dilengkapi Ruang Operasi dan 100 Tempat Tidur





