Bahaya Bakteri dan H5N1, Dokter Anak Desak Aturan Tegas Tolak Penjualan Raw Milk

Ilustrasi botol berisi susu segar mentah (raw milk) yang belum melalui proses pemanasan pasteurisasi.
Rekomendasi medis terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) memperingatkan bahaya kontaminasi mikroorganisme pada susu mentah bagi kelompok rentan.
NEW YORK —Jejak News, Tren mengonsumsi susu mentah tanpa olahan (raw milk) kini menghadapi benteng penolakan keras dari otoritas medis global. American Academy of Pediatrics (AAP) secara resmi memperbarui pernyataan kebijakannya yang memperingatkan bahwa konsumsi susu dan produk olahan non-pasteurisasi membawa risiko penyakit serius hingga kematian. Kebijakan komprehensif ini dijadwalkan terbit dalam jurnal Pediatrics edisi November 2026.
Dokumen medis tersebut menyoroti fakta mengkhawatirkan mengenai lonjakan wabah penyakit akibat susu mentah selama dua dekade terakhir. Ironisnya, anak-anak mendominasi hampir setengah dari total populasi pasien yang terinfeksi.
Susu yang tidak dipasteurisasi menjadi medium empuk bagi kolonisasi mikroorganisme patogen, mulai dari Salmonella, Listeria, Campylobacter, hingga galur mematikan Escherichia coli (E. coli). Infeksi bakteri E. coli jenis tertentu pada anak-anak terbukti memicu sindrom uremik hemolitik—sebuah komplikasi fatal yang merusak sel darah merah dan berujung pada gagal ginjal akut.
“Bayi, anak kecil, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah menjadi kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi serius akibat konsumsi susu mentah,” tegas perwakilan AAP dalam laporan yang dilansir dari media US News, Jumat (9/10/2026).
Proteksi Pasteurisasi dan Alarm bagi Ibu Hamil
Secara historis, sebelum metodologi pasteurisasi—yaitu teknik pemanasan dengan suhu dan durasi minimum untuk membunuh parasit—diterapkan secara massal, susu merupakan salah satu kontributor utama angka kematian bayi dan keracunan makanan di dunia. Kembalinya tren raw milk dinilai sebagai langkah mundur yang menantang pencapaian sains tersebut.
Dampak destruktif susu mentah juga menyasar langsung ruang rahim. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menggarisbawahi bahwa infeksi vertikal seperti listeriosis dan toksoplasmosis dapat menembus plasenta dan menular ke janin. Bakteri Listeria mampu memicu keguguran spontan, infeksi neonatal berat, hingga kematian janin di dalam kandungan, bahkan ketika sang ibu tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.
Selain ancaman bakteri konvensional, AAP menaruh perhatian khusus pada aspek epidemiologi baru pasca-wabah flu burung H5N1 yang menginfeksi sapi perah di Amerika Serikat pada 2024. Kendali klinis saat itu menemukan jejak virologi H5N1 yang pekat di dalam sampel susu mentah. Walaupun transmisi patogen via susu sejauh ini baru termanifestasi pada hewan, potensi lompatan spesies (spillover) ke manusia tetap menjadi ancaman nyata yang diwaspadai para epidemiolog.
Intervensi Klinis dan Regulasi Label
Menyikapi urgensi ini, salah satu penulis kebijakan AAP, dr. Anne Sardi, bersama anggota Komite Penyakit Menular AAP, Dr. Adam Ratner, menginstruksikan para dokter anak di seluruh dunia untuk memasukkan kuisioner konsumsi raw milk ke dalam menu pemeriksaan gizi rutin keluarga. Dokter dituntut aktif mengedukasi publik agar beralih ke produk yang teruji aman secara termal.
“Dokter juga dianjurkan mengarahkan keluarga agar memilih produk yang telah dipasteurisasi, termasuk susu kambing dan susu domba,” papar dr. Anne dan dr. Adam secara kolektif.
Langkah preventif medis ini kini didorong ke ranah hukum. AAP menyerukan amandemen undang-undang di tingkat negara bagian untuk melarang secara total komersialisasi produk susu mentah di pasar bebas. Secara paralel, FDA mengimbau masyarakat untuk bertindak sebagai konsumen cerdas dengan memastikan label kemasan secara eksplisit mencantumkan diksi “pasteurized”. Ketiadaan klaim tersebut menjadi indikasi kuat bahwa produk tersebut menyimpan bom waktu biologis berupa cairan mentah yang berbahaya.
Reporter: Arumka| Editor: Ismail Saleh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu