JEJAK-NEWS.COM-Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) secara resmi menutup rangkaian Konferensi Air Internasional (International Water Conference) yang berlangsung di Bali. Dalam pidato penutupannya di hadapan delegasi lintas negara, pakar lingkungan, dan pemangku kepentingan global, Wamen LH menegaskan bahwa upaya perlindungan ekosistem perairan dunia tidak akan pernah berhasil jika hanya berfokus pada wilayah perairan itu sendiri, melainkan harus dimulai secara konsisten dari wilayah daratan (land-to-sea approach).
Wamen LH memaparkan bahwa sebagian besar pencemaran, degradasi daerah aliran sungai (DAS), dan krisis kualitas air laut berakar dari aktivitas manusia di daratan, termasuk alih fungsi lahan, pencemaran limbah industri, serta pengelolaan sampah plastik yang belum optimal. Oleh karena itu, kebijakan tata ruang daratan, konservasi hutan hulu, serta pemulihan daerah tangkapan air harus menjadi prioritas utama dalam strategi mitigasi krisis air global.
Dalam forum internasional tersebut, Indonesia turut membagikan pengalaman dan praktik baik dalam pengelolaan sumber daya air berbasis masyarakat serta pemulihan ekosistem sungai kritis melalui Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air. Pendekatan kolaboratif ini dinilai mampu menyatukan komitmen pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat lokal untuk menjaga kelestarian hulu hingga hilir.
Baca juga: Sentuh Nurani Umat, KLH dan MUI Dorong Gerakan Tobat Ekologis sebagai Solusi Atasi Kedaruratan Alam
Konferensi Air Internasional di Bali ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, termasuk penguatan komitmen pendanaan iklim untuk adaptasi air, percepatan transformasi pengelolaan limbah perkotaan, serta peningkatan kerja sama riset lintas batas negara. Pemerintah Indonesia berharap hasil konferensi ini dapat menjadi momentum global bagi seluruh negara untuk memperketat aksi nyata pelindungan ekosistem air demi menjamin ketersediaan air bersih dan ketahanan iklim bagi generasi masa depan.(Yusuf)





