Tangerang —JEJAK-NEWS.COM, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengambil langkah taktis guna mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi, terutama banjir. Memanfaatkan sisa musim kemarau, otoritas terkait secara masif melakukan normalisasi di tujuh lokasi perairan prioritas yang tersebar di wilayah barat dan timur Kota Tangerang. Langkah mitigasi struktural ini dikonfirmasi langsung pada Rabu, 23 September 2026.
Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan Dinas PUPR Kota Tangerang, Iwan Nursyamsu, memaparkan bahwa pengerukan sedimentasi lumpur sengaja dioptimalkan saat volume air surut. Upaya ini difokuskan untuk mengatasi penyempitan dan pendangkalan yang mereduksi kapasitas daya tampung air, sebagai pemicu utama terjadinya luapan saat intensitas hujan meninggi.
Berdasarkan pemetaan taktis di lapangan, proyek normalisasi di wilayah barat mencakup Kali Ledug Periuk dan Saluran Pembuang Mutiara Pluit Periuk. Sementara untuk wilayah timur, pengerjaan difokuskan pada saluran pembuang Simprug, Rawa Kunciran, Kali Serua, Tandon Pondok Pucung, serta saluran pembuang Karang Timur yang baru saja dimulai.
“Kami memanfaatkan kondisi musim kemarau ini untuk melakukan kegiatan normalisasi di beberapa sungai, saluran air, dan tandon untuk menangani sedimentasi yang menyebabkan penyempitan, pendangkalan, bahkan pengurangan kapasitas daya tampung air sehingga meningkatkan risiko terjadinya luapan,” terang Iwan saat memantau progres pengerjaan fisik.
Hingga pekan terakhir September, visualisasi progres fisik di lapangan menunjukkan deviasi positif. Mayoritas titik prioritas telah mencapai angka 50 hingga 60 persen, bahkan sebagian di antaranya sudah berada di tahap penyelesaian akhir. Dinas PUPR juga menegaskan akan terus melakukan pemetaan dinamis guna menyisir titik rawan banjir sekunder lainnya yang membutuhkan intervensi serupa.
Sebagai langkah komplementer, Pemkot Tangerang mulai memobilisasi dan menyiagakan material kisdam (tanggul darurat). Langkah ini disiapkan sebagai instrumen respons cepat jika terjadi kerusakan atau jebolnya turap penahan tanah saat memasuki musim penghujan. Iwan juga mengimbau pelibatan aktif masyarakat sipil untuk menjaga kebersihan ekosistem sungai dan tandon di lingkungan masing-masing demi meminimalisasi risiko penyumbatan sampah.
Reporter: Sandi Raditya, | Editor: Ismail Saleh





