SOREANG — Jejak News, Cetak biru pemerataan akses pendidikan di Indonesia kembali menorehkan tonggak sejarah baru di wilayah Jawa Barat. Kawasan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Kabupaten Bandung yang berlokasi di Soreang secara resmi memulai fase operasionalnya, ditandai dengan pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027.
Kehadiran kompleks pendidikan terpadu ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan manifestasi dari upaya radikal untuk memutus rantai ketimpangan sosial melalui jalur edukasi inklusif.
Sinergi Konstruksi BUMN dan Komitmen Negara
Kompleks megaproyek pendidikan ini berdiri kokoh berkat kontribusi taktis PT Brantas Abipraya (Persero) yang bertindak sebagai kontraktor pembangunan infrastruktur. Perusahaan pelat merah ini berhasil merampungkan kawasan instruksional modern yang dirancang ramah anak sekaligus memiliki ketahanan jangka panjang.
Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero), Dian Sovana, menegaskan bahwa perwujudan SRT 4 merupakan bagian dari tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility) dalam mendukung program strategis nasional.
“Bagi Brantas Abipraya, setiap infrastruktur yang kami bangun harus memberikan manfaat nyata. Sekolah ini diharapkan menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas sehingga mampu membuka peluang yang lebih besar bagi anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak,” ungkap Dian Sovana dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Validasi politik dan dukungan penuh dari pemerintah pusat terlihat nyata dengan hadirnya Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman, yang secara resmi membuka dan meresmikan jalannya MPLS. Dalam pidato rilisnya, Dudung menggarisbawahi bahwa kesiapan sarana dan prasarana di kawasan terpadu ini mencerminkan kuatnya sinergi lintas sektoral demi melahirkan sumber daya manusia unggul menuju visi besar Indonesia Emas.
Anatomi Fasilitas dan Distribusi Demografi Siswa
Berbeda dengan sekolah konvensional, SRT 4 Kabupaten Bandung mengadopsi model kawasan pendidikan terpadu dengan sistem berasrama (boarding school). Langkah ini diambil guna mengisolasi gangguan eksternal sosiologis, melatih kemandirian, serta memberikan lingkungan pembentukan karakter yang intensif bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.
Kompleks ini memiliki ekosistem penunjang yang sangat komprehensif, meliputi:
- Gedung pembelajaran khusus untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA.
- Rumah susun (rusun) modern sebagai hunian layak bagi para tenaga pendidik.
- Asrama siswa, masjid, gedung serbaguna, ruang makan, dan kantin terintegrasi.
- Fasilitas olahraga premium seperti lapangan mini soccer dan basket.
Pada tahun ajaran perdana ini, sistem mencatat sebanyak 560 siswa—gabungan antara peserta didik baru dan siswa Sekolah Rakyat Rintisan—telah menyelesaikan proses registrasi dan masuk barak asrama. Berdasarkan data demografi pendidikan, persebaran siswa terbagi ke dalam tiga klaster jenjang: sebanyak 56 siswa berada di tingkat Sekolah Dasar (SD), 229 siswa di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan mayoritas sebanyak 275 siswa mendominasi di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Ketika semen dan beton dari sebuah badan usaha milik negara dikonversi menjadi ruang-ruang kelas berasrama di Soreang, kita sedang melihat bagaimana keadilan sosial dicoba untuk diproduksi. Sekolah gratis dan terintegrasi ini adalah tamparan bagi sistem pendidikan komersial; ia membuktikan bahwa anak-anak dari rahim kemiskinan pun berhak atas fasilitas kelas dunia tanpa harus menggadaikan masa depan mereka pada mahalnya biaya kapitalisme pendidikan.
Reporter: Juli Rahmawati| Editor: Ismail Saleh





