JN-Pemerintah Republik Indonesia secara konsisten menyuarakan urgensi ketahanan air (water security) sebagai pilar fundamental dalam menjaga perdamaian global dan mengakselerasi agenda pembangunan berkelanjutan dunia. Dalam forum diplomasi multilateral terbaru, Indonesia menyerukan kepada komunitas internasional untuk menghentikan politisasi sumber daya air dan mendesak transisi menuju tata kelola air yang kolaboratif, inklusif, serta berorientasi pada keadilan sosial.
Langkah persuasif ini menegaskan posisi kepemimpinan diplomasi lingkungan Indonesia di tingkat global, sekaligus melanjutkan estafet komitmen rill pasca-penyelenggaraan World Water Forum (WWF).
Indonesia menekankan bahwa kelangkaan air yang diperparah oleh perubahan iklim ekstrem bukan lagi sekadar isu ekologi lokal, melainkan ancaman geopolitik nyata yang berpotensi memicu gesekan atau konflik horizontal antarwilayah dan antarnegara. Oleh karena itu, Indonesia menawarkan peta jalan taktis yang berfokus pada tiga aspek hulu: penguatan investasi infrastruktur air bersih di negara berkembang, transfer teknologi pengelolaan limbah cair, serta perlindungan hukum internasional terhadap hak atas air bagi masyarakat adat dan daerah afirmasi.
“Air adalah sumber kehidupan, dan akses terhadap air bersih yang layak adalah hak asasi universal. Indonesia menyerukan kepada dunia untuk menempatkan ketahanan air sebagai prioritas tertinggi dalam arsitektur perdamaian global. Tanpa adanya kepastian ketersediaan air yang adil, target-target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) hanya akan menjadi komitmen di atas kertas,” tegas perwakilan delegasi diplomasi Indonesia, Sabtu (30/5/2026).
Di lingkup domestik, seruan global ini diwujudkan pemerintah lewat percepatan proyek strategis nasional, seperti pembangunan bendungan terintegrasi, digitalisasi sistem rujukan debit air, hingga pembenahan tata ruang hidrologi yang tangguh bencana.
Delegasi dari berbagai negara menyambut positif konsistensi seruan Indonesia dan bersepakat untuk mengadopsi mekanisme pendanaan kreatif (blended finance) guna mendanai proyek-proyek konservasi air di kawasan yang rentan mengalami kekeringan ekstrem.
Melalui gaung diplomasi air yang progresif ini, Indonesia berhasil memperkuat pengaruh strategisnya sebagai negara kepulauan yang aktif menawarkan solusi atas krisis global. Keberhasilan penggalangan komitmen internasional ini diharapkan mampu mereduksi potensi konflik berbasis sumber daya alam, sekaligus menjamin ketersediaan air bersih bagi generasi masa depan secara merata dan berkelanjutan.(Yonex)





