Misi Hijau di New York: Menteri Kehutanan Paparkan Peluang Investasi Karbon dan Multiusaha Kehutanan Indonesia

JN-Pemerintah Indonesia semakin serius memposisikan sektor kehutanan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan. Dalam forum bisnis bergengsi di New York, Amerika Serikat, Menteri Kehutanan (Menhut) menegaskan kesiapan Indonesia untuk membuka pintu investasi seluas-luasnya pada sektor perdagangan karbon (carbon trade) dan skema Multiusaha Kehutanan (MUK).

Kehadiran Menhut di hadapan para investor global tersebut bertujuan untuk memperkenalkan transformasi paradigma pengelolaan hutan di Indonesia. Jika sebelumnya hutan hanya identik dengan pengambilan kayu, kini pemerintah mendorong pemanfaatan kawasan hutan yang lebih variatif tanpa merusak ekosistem, seperti jasa lingkungan, ekowisata, hingga penyerapan karbon.

“Indonesia memiliki potensi cadangan karbon yang sangat besar, baik dari hutan tropis maupun lahan gambut. Kami telah menyiapkan kerangka regulasi yang kuat untuk memastikan investasi karbon berjalan transparan, akuntabel, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal,” ujar Menhut dalam paparannya.

Baca juga: Strategi Tembus Ritel: UMKM Kota Tangerang Percantik Kemasan dan Branding di Gedung Cisadane

Selain investasi karbon, Menhut juga menyoroti peluang Multiusaha Kehutanan. Kebijakan ini memungkinkan pemegang perizinan berusaha untuk mengelola berbagai komoditas di dalam satu kawasan hutan, mulai dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) hingga energi terbarukan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga fungsi konservasi hutan sebagai paru-paru dunia.

Forum bisnis ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk menarik modal asing guna mendukung target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, sekaligus memperkuat posisi tawar nasional dalam ekonomi hijau global.(Yonex)

Baca juga: Di KTT ke-48 ASEAN Filipina, Presiden Prabowo Suarakan Kolaborasi Ketahanan Pangan dan Kemandirian Energi

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu