Penabrak Tokoh Pramuka ‘Kak Herman’ Ditangkap di Bandung Usai Tancap Gas Hindari Massa

Potret sepeda milik korban yang rusak pasca kecelakaan disandingkan dengan foto truk Fuso pelaku yang berhasil diamankan di Mapolresta Tangerang.
Barang bukti keadilan: Kendaraan truk Fuso D-8319-GL saat diamankan petugas. Keberanian saksi mata memotret nomor polisi kendaraan ini menjadi kunci utama pengungkapan misteri tabrak lari yang menewaskan tokoh Pramuka Banten.
TANGERANG, Jejak News— Pelarian pemuda berinisial AD (21) berakhir di tangan pihak berwajib. Sopir truk Fuso yang diduga kuat menjadi pelaku tabrak lari hingga menewaskan tokoh Pramuka legendaris Tangerang Raya dan Banten, Herman Sulistyo (71) atau akrab disapa Kak Herman, resmi diringkus polisi di tempat persembunyiannya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Tragedi memilukan yang merenggut nyawa sang pembina pramuka sejati ini terjadi di ruas Jalan Raya Serang Km 11, Desa Bitung Jaya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, pada Minggu (7/6) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Korban yang saat itu sedang mengayuh sepeda kesayangannya ditabrak secara tragis oleh kendaraan roda enam bermuatan besar yang dikemudikan oleh pelaku.
Sempat Disetop Warga, Pelaku Pilih Tancap Gas
Aksi tidak bertanggung jawab pelaku sempat disaksikan oleh warga di sekitar lokasi kejadian. Mengetahui truknya telah menghantam seorang lansia, AD bukannya turun untuk memberikan pertolongan, melainkan memilih memacu kendaraannya lebih dalam untuk melarikan diri ke luar kota.
“Ada satu saksi yang mencoba untuk memberhentikan, tapi (truk) tidak berhenti,” ungkap Kasat Lantas Polresta Tangerang, AKP Fery Oktaviari Pratama, Jumat (12/6).
Namun, pelarian AD berhasil digagalkan berkat kejelian seorang warga di lokasi yang dengan sigap mendokumentasikan plat nomor truk Fuso bernomor polisi D-8319-GL tersebut. Berbekal bukti foto digital dari masyarakat itulah, tim siber dan buru sergap kepolisian berhasil melacak jejak pelarian armada maut tersebut hingga ke wilayah Jawa Barat.
Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, mengonfirmasi bahwa penangkapan AD dilakukan tanpa perlawanan berarti di kediamannya, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung, pada Kamis (11/6) malam.
“Kami juga turut mengamankan satu unit kendaraan roda enam jenis Fuso dengan nomor polisi D-8319-GL. AD diduga merupakan pengendara atau sopir kendaraan Fuso tersebut,” jelas Kombes Andi Muhammad Indra.
Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku mengakui keputusannya kabur dari tempat kejadian perkara (TKP) murni didasari oleh rasa panik yang luar biasa.
“Dari keterangannya, pelaku melarikan diri dikarenakan takut diamuk massa oleh warga,” tambah AKP Fery.
Kepergian Sang Pramuka Sejati Berbaju Cokelat
Sosok Kak Herman bukan sekadar korban kecelakaan lalu lintas biasa bagi masyarakat Tangerang Raya dan Provinsi Banten. Pria berusia 71 tahun ini merupakan ikon hidup kedisiplinan dan dedikasi gerakan Pramuka. Ia dikenal luas karena konsistensinya yang selalu mengenakan seragam lengkap Pramuka dalam aktivitas kesehariannya, termasuk saat bepergian menghadiri berbagai acara resmi dengan menggunakan sepeda.
Sebelum diantarkan ke peristirahatan terakhirnya di TPU Rawa Kucing, Kecamatan Neglasari, jenazah Kak Herman terlebih dahulu disalatkan di Masjid Raya Al-A’zhom, Kota Tangerang pada Minggu (7/6) siang.
Upacara pelepasan jenazah dipenuhi isak tangis dan dihadiri oleh jajaran pejabat daerah serta ratusan anggota Pramuka se-Provinsi Banten yang memberikan penghormatan terakhir melalui prosesi upacara kepramukaan yang sakral.
Kak Herman kini telah menyelesaikan penjelajahan terakhirnya di dunia, meninggalkan jejak keteladanan yang mendalam tentang arti sebuah kesetiaan pada janji Pramuka. Meski raganya telah tiada akibat hantaman keras di gelapnya jalanan Cikupa, keadilan yang mulai benderang lewat penangkapan pelaku menjadi pelipur lara bagi keluarga dan ribuan tunas muda yang pernah dididiknya.
Di atas tanah TPU Rawa Kucing, seragam cokelat tua itu mungkin telah menyatu dengan bumi, namun semangat gowes dan pengabdian tanpa batas Kak Herman akan tetap abadi mengalir di nadi kepanduan Banten.
Reporter: Aryati Damasari| Editor: Faisal/Ismail Saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu