Kesaksian Memilukan Relawan Flotilla yang Disiksa Otoritas Israel

Dokumentasi dokumenter aktivitas kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 saat dicegat armada militer Israel di perairan internasional barat Siprus.
Misi yang Dibungkam: Iring-iringan kapal kemanusiaan internasional yang membawa bantuan medis untuk Gaza dihentikan secara paksa di perairan internasional, berujung pada penahanan dan deportasi ratusan aktivis lintas negara.
Jejak News | PARIS — Misi suci mengantarkan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang dikepung kelaparan berubah menjadi horor kemanusiaan yang mengerikan. Sejumlah relawan dan aktivis perdamaian dunia yang tergabung dalam rombongan Global Sumud Flotilla 2.0 membongkar praktik penyiksaan sistematis, pelecehan martabat, hingga kekerasan seksual yang mereka alami selama berada di bawah penahanan militer Israel.
Gelombang kesaksian memilukan ini mulai mengalir deras ke ruang publik setelah Pemerintah Israel mendeportasi sebanyak 422 aktivis dari 41 negara pada Kamis (21/05/2026), termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ikut serta dalam misi tersebut [16]. Setibanya di bandara-bandara internasional negara asal, para penyintas kemanusiaan ini tak lagi mampu membendung rasa trauma mereka.
Pihak Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 dalam rilis resminya, Jumat (22/05/2026), mengeluarkan pernyataan mengejutkan mengenai kebrutalan di luar batas kewajaran yang dilakukan oleh sipir dan tentara Israel .
“Setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. Ada yang ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat . Puluhan orang mengalami patah tulang ,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Kesaksian dari Kamar Kontainer dan Tempat Teror
Salah satu kesaksian paling menyayat hati datang dari Meriem Hadjal, seorang aktivis asal Prancis yang dideportasi dan tiba di Paris pada Jumat malam . Dengan mata berkaca-kaca, ia membeberkan perlakuan tidak manusiawi yang menimpa dirinya selama masa interogasi.
“Saya mengalami kekerasan seksual dan diraba,” ujar Meriem di hadapan para wartawan . “Saya dipukul, ditampar, disentuh, ditendang di tulang rusuk, rambut saya dijambak . Saya mengalami trauma selama berjam-jam .”
Pengalaman serupa juga disuarakan oleh dua tokoh asal Italia, yakni Alessandro Mantovani, seorang jurnalis investigasi dari surat kabar Il Fatto Quotidiano, dan Dario Carotenuto yang merupakan anggota parlemen dari Gerakan Bintang Lima .
Mantovani mengungkapkan bahwa dirinya diseret ke sebuah fasilitas penahanan darurat yang terbuat dari deretan kontainer besi di Pelabuhan Ashdod. Ia secara lugas menggambarkan lokasi tersebut sebagai “tempat teror” setelah dirinya dipukuli berulang kali tanpa ampun.
Sementara itu, dari Bandara Istanbul, Turki, aktivis asal Inggris, Richard Johan Anderson, mengonfirmasi adanya skema intimidasi psikologis dan fisik yang terstruktur untuk meruntuhkan mental para relawan .
“Kami dipukuli, disiksa, secara sistematis diperlakukan tidak manusiawi, dan kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari,” lirihnya.
Adalah, sebuah lembaga independen pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Israel dan bertindak sebagai kuasa hukum para tahanan, membenarkan adanya “cedera parah yang meluas” di antara para relawan . Berdasarkan pemantauan pengacara mereka yang sempat menemui ratusan aktivis di Pelabuhan Ashdod, keluhan mengenai kekerasan ekstrem dan pengabaian hak medis sangat masif ditemukan, bahkan tiga orang harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Kecaman Keras Indonesia dan Kemarahan Global
Kebrutalan aparat keamanan Israel ini memicu reaksi diplomatik yang keras dari berbagai belahan dunia. Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, mengutuk keras perlakuan barbar yang merendahkan martabat kemanusiaan para relawan sipil tersebut.
“Tindakan yang merendahkan martabat warga sipil dalam sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional yang tidak dapat ditoleransi ,” tegas Menlu Sugiono dalam pernyataannya.
Nada kemarahan yang sama juga diletupkan oleh Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand. Melalui informasi intelijen diplomatik yang diterimanya, Anand memastikan warganya mendapat perlakuan mengerikan selama berada di sel tahanan Israel.
“Kanada dengan tegas mengutuk perlakuan buruk terhadap warga Kanada di Israel. Mereka yang bertanggung jawab atas penyalahgunaan berat ini harus dimintai pertanggungjawaban,” pintanya.
Pemerintah Jerman dan Spanyol turut menuntut adanya investigasi menyeluruh dan transparan atas insiden ini . Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, mengonfirmasi bahwa 4 dari 44 aktivis berkewarganegaraan Spanyol terpaksa menjalani perawatan medis intensif akibat luka fisik akibat hantaman benda tumpul.
Provokasi Ben Gvir dan Penyanggalan Tel Aviv
Di sisi lain, Otoritas Penjara Israel melontarkan pembelaan dengan menyebut semua testimoni para korban sebagai fiksi yang tidak memiliki dasar faktual . Mereka mengeklaim seluruh prosedur penahanan telah dijalankan secara profesional di bawah koridor hukum dasar internasional.
Aksi provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir
Pemerintah Israel bahkan menuding aksi kemanusiaan rombongan Flotilla—yang membawa bahan makanan dan obat-obatan dengan 50 kapal dari Turki—sebagai “aksi publikasi semata” yang terafiliasi dengan kepentingan Hamas.
Kendati demikian, penyangkalan Tel Aviv rontok setelah sebuah rekaman video memperlihatkan aksi provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, viral di jagat maya. Dalam video tersebut, Ben Gvir tampak mengejek dan merendahkan puluhan aktivis kemanusiaan internasional yang dipaksa berlutut dengan tangan diborgol serta wajah yang dipaksa bersujud ke tanah.
Tindakan arogan Ben Gvir tersebut bahkan memicu kritik internal yang jarang terjadi dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menyebut aksi menterinya “tidak sesuai dengan nilai-nilai Israel” demi meredam kemarahan 20 negara mitra diplomatik mereka.
Sebagai catatan, insiden pencegatan paksa ini terjadi pada Senin (18/05/2026) fajar di wilayah perairan internasional sebelah barat Siprus, berjarak sekitar 460 kilometer dari garis pantai Gaza.
Blokade maritim sepihak yang diterapkan Israel kembali membuktikan dirinya sebagai tembok tebal yang tidak hanya mengurung kebebasan warga Palestina, tetapi juga tega menumpahkan darah para pejuang kemanusiaan dunia.
Pewarta: Ananta Fathur
Editor: Ismail Saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu