JEJAK-NEWS.COM-Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama International Union for Conservation of Nature (IUCN) mematangkan skema pelindungan ekosistem berbasis ilmiah di tiga kawasan keanekaragaman hayati krusial, yakni Kabupaten Buton, Banggai Kepulauan, dan Sumba Timur. Kolaborasi ini dirancang untuk memastikan tata kelola konservasi kehati yang presisi, adaptif, serta berlandaskan metodologi ilmiah internasional.
Ketiga wilayah sasaran tersebut memiliki keunikan lanskap ekologis, spesies endemik terancam punah, serta potensi keanekaragaman hayati darat dan pesisir yang bernilai tinggi. Pendekatan berbasis sains yang disiapkan oleh KLH/BPLH dan IUCN mencakup pemetaan habitat sensitif, penilaian keanekaragaman hayati secara berkala, penyusunan indikator status ekosistem, serta integrasi pemanfaatan ruang tradisional masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Kerja sama dengan IUCN dinilai penting untuk memperkuat standar ilmiah dalam perumusan kebijakan konservasi dan penetapan status perlindungan kawasan. Selain menjaga keberlanjutan flora dan fauna khas di Buton, Banggai Kepulauan, dan Sumba Timur, inisiatif ini juga ditujukan untuk memperkuat ketahanan ekosistem terhadap ancaman perubahan iklim serta penurunan kualitas lingkungan.
Baca juga: Meski Jumlah Hotspot Turun 84 Titik, Operasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla Tetap Diperkuat
KLH/BPLH menegaskan komitmennya untuk melibatkan pemerintah daerah, akademisi, serta komunitas masyarakat adat setempat dalam seluruh tahapan implementasi program konservasi ini. Penyelamatan ekosistem berbasis bukti ilmiah ini diharapkan menjadi model pengelolaan keanekaragaman hayati yang sukses dan dapat direplikasi di wilayah prioritas lainnya di Indonesia.(Yusuf)





