JEJAK-NEWS.COM-Jumlah titik panas (hotspot) penanda potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah rawan mencatatkan penurunan signifikan sebanyak 84 titik dibandingkan pemantauan periode sebelumnya. Kendati demikian, Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Karhutla menegaskan tidak mengurangi intensitas penanganan dan justru memperkuat operasi penanggulangan di lapangan guna mencegah potensi lonjakan pemukiman titik api baru.
Langkah penguatan operasi ini mencakup optimalisasi patroli terpadu tim darat, pembasahan lahan gambut (rewetting), serta kesiapsiagaan armada helikopter pemadam berbasis pengboman air (water bombing) dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penurunan jumlah hotspot dinilai sebagai hasil positif dari efektivitas intervensi penanganan hulu dan penegakan hukum, namun kewaspadaan tinggi tetap diprioritaskan mengingat potensi perubahan cuaca dan angin kencang.
Pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait berkolaborasi erat dengan TNI, Polri, Manggala Agni, serta masyarakat peduli api di daerah. Pengawasan berbasis teknologi geospasial dan citra satelit dilakukan secara nonstop selama 24 jam untuk memantau pergerakan indikator suhu permukaan tanah dan arah sebaran asap.
Masyarakat dan pemilik konsesi lahan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Penguatan sinergi antara kesiapsiagaan Satgas dan kepatuhan publik diharapkan mampu menjaga penurunan angka hotspot secara berkelanjutan serta meminimalkan dampak gangguan kesehatan akibat kabut asap.(Yusuf)





