JN-Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Republik Indonesia secara resmi mewakili Menteri Pertahanan untuk menghadiri forum internasional bergengsi The IISS Shangri-La Dialogue 2026 yang diselenggarakan di Singapura. Kehadiran delegasi tingkat tinggi ini menjadi langkah hulu yang sangat taktis bagi Indonesia untuk mempertebal arsitektur diplomasi pertahanan, sekaligus menegaskan kembali posisi strategis negara dalam merespons dinamika geopolitik global serta eskalasi keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Forum yang mempertemukan para menteri pertahanan, kepala militer, dan analis keamanan senior dari berbagai belahan dunia ini dimanfaatkan Indonesia sebagai panggung utama untuk menyuarakan perdamaian dunia yang berkeadilan.
Dalam rangkaian sidang pleno dan pertemuan bilateral di sela-sela forum, Wamenhan RI menyampaikan poin-poin struktural mengenai pentingnya menjaga hukum internasional, transparansi militer, serta penguatan dialog demi mencegah potensi miskalkulasi taktis di wilayah perbatasan laut dan udara. Indonesia secara konsisten mendorong negara-negara besar (great powers) untuk mengedepankan hukum laut internasional (UNCLOS 1982) sebagai instrumen determinan dalam penyelesaian sengketa wilayah, guna mewujudkan stabilitas kawasan yang berkepastian hukum.
Baca juga: Resmikan Fasilitas Baru Seskoad, Presiden Prabowo Tekankan Pentingnya Literasi Militer Strategis
“Kehadiran Indonesia di Shangri-La Dialogue 2026 menekankan komitmen hulu-ke-hilir kita terhadap sentralitas ASEAN. Diplomasi pertahanan kita diarahkan untuk membangun jembatan komunikasi (bridge-builder) di tengah rivalitas geopolitik. Kita ingin memastikan bahwa stabilitas Indo-Pasifik tetap terjaga melalui kolaborasi pertahanan yang inklusif, bukan melalui pendekatan konfrontatif,” tegas Wamenhan RI di Singapura, Senin (1/6/2026).
Selain menyampaikan pidato pandangan makro, Wamenhan RI aktif memanfaatkan momentum ini untuk menggelar serangkaian pembicaraan bilateral taktis dengan sejumlah mitra strategis, guna menjajaki peluang modernisasi alutsista dan transfer teknologi industri pertahanan dalam negeri.
Penegasan komitmen Indonesia ini mendapatkan atensi positif dari komunitas internasional yang memandang Indonesia sebagai kekuatan penyeimbang yang krusial di kawasan Asia Tenggara. Langkah penataan hubungan eksternal ini dinilai linier dengan amanat konstitusi politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia sejak dahulu.
Baca juga: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Pantau Uji Coba Rudal Strategis di Karimunjawa
Melalui partisipasi aktif dan terukur di Shangri-La Dialogue 2026 ini, Kementerian Pertahanan RI optimistis reputasi pertahanan Indonesia di mata dunia akan semakin diperhitungkan. Keberhasilan penyampaian doktrin pertahanan nasional ini diharapkan mampu memitigasi risiko ancaman eksternal, memperkuat ketahanan kawasan, serta mengamankan kepentingan kedaulatan wilayah kedaulatan NKRI secara berkelanjutan.(Yonex)





