Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Menjadi Panggung Polarisasi Geopolitik Global Global Baru

Ratusan ribu warga Iran memadati jalanan Teheran dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Gelombang pelayat berpakaian hitam membawa spanduk kecaman terhadap AS dan penghormatan terakhir untuk Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Pada Minggu (5/7/2026).
TEHERAN, Jejak News— Ibu kota Iran, Teheran, berubah menjadi lautan hitam ketika ratusan ribu pelayat memadati jalan-jalan utama untuk menghadiri upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Mengiringi prosesi sakral tersebut, atmosfer ketegangan sosiopolitik terasa pekat melalui seruan balas dendam yang menggema di antara massa. Kemarahan publik secara spesifik diarahkan kepada mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menyusul eskalasi konflik yang dipicu oleh serangan udara fatal kolaborasi AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Sejak fajar menyingsing pada Minggu (5/7/2026), gelombang massa yang mengenakan pakaian hitam terus mengalir, membawa spanduk penghormatan dan bendera nasional. Jumlah pelayat yang hadir dilaporkan melonjak drastis dibandingkan hari sebelumnya, mencerminkan dalamnya rasa duka sekaligus solidaritas nasional yang terkonsolidasi di tengah krisis.
Koresponden internasional di lapangan menangkap dinamika emosional yang kuat dari akar rumput. Gholamreza Sabooni (29), seorang pekerja toko kelontong setempat, mengekspresikan sentimen kolektif dengan artikulasi yang lugas namun mendalam.
“Saya datang ke sini bukan sekadar untuk meratap, tetapi untuk berteriak dan menuntut keadilan. Mereka telah membunuh imam kami, maka secara moral dan politik, pemimpin mereka, Trump, harus menerima konsekuensi yang setara,” ujar Sabooni dengan nada bergetar namun tegas.

Sentimen ini bukan tanpa konteks sejarah. Otoritas keamanan AS sendiri telah melacak intensifikasi ancaman intelijen dari Teheran terhadap Trump dan sejumlah mantan pejabat pemerintahannya selama bertahun-tahun. Ketegangan ini berakar dari keputusan geopolitik Trump pada tahun 2020 yang memerintahkan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani, pemimpin Pasukan Quds Garda Revolusi (IRGC). Kini, kematian Khamenei melipatgandakan urgensi balas dendam tersebut di mata publik Iran.
Seorang pelayat lain, Mohammad Reza Sharifi, memberikan analisis sosiopolitis yang lebih sistemik mengenai situasi ini:
“Kebijakan luar negeri kita tidak boleh lagi dibentuk dengan cara yang membiarkan darah para pemimpin kita dinodai tanpa adanya respons timbal balik yang setara. Negara-negara asing tidak boleh merasa memiliki impunitas untuk melakukan tindakan agresi seperti ini tanpa menghadapi konsekuensi diplomatik dan militer yang serius dari pemerintah kita.”

Dimensi domestik dari upacara ini juga memperlihatkan dinamika politik internal Iran yang sangat krusial. Salat jenazah dipimpin langsung oleh Ayatollah Jafar Sobhani, salah satu otoritas keagamaan paling senior di Iran. Di barisan depan, tampak hadir jajaran elite kekuasaan: Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Majelis Permusyawaratan Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, serta Komandan Pasukan Quds IRGC, Esmail Qaani.
Namun, perhatian pengamat politik internasional tertuju pada apa yang tidak terlihat di sana. Meskipun tiga putra almarhum—Masoud, Meysam, dan Mostafa—hadir mendampingi peti jenazah, putra mahkota politik sekaligus penerus kepemimpinan Iran, Mojtaba Khamenei, secara mencolok absen dari hadapan publik.
Berdasarkan laporan investigasi, absennya Mojtaba murni didasarkan pada kalkulasi risiko keamanan tingkat tinggi. Intelijen Iran mengidentifikasi adanya ancaman pembunuhan (asasinasi) yang sangat nyata dari pihak Israel terhadap dirinya, memaksanya untuk tetap berada dalam perlindungan protokol keamanan bawah tanah selama prosesi yang berlangsung di area terbuka ini.
Suasana duka semakin menyayat hati ketika prosesi juga menyertakan peti jenazah kecil berisikan cucu Khamenei yang baru berusia 14 bulan, Zahra Mohammadi Golpayegani. Zahra, bersama ibunya Boshra Khamenei, turut menjadi korban tewas dalam serangan udara di kompleks kediaman tersebut. Sang ayah, Mohammad Javad Mohammadi Golpayegani, tampak tegar berdiri di samping komandan tinggi IRGC, Ahmad Vahidi, di tengah prosesi penyalatan.
Upacara yang dijadwalkan berlangsung selama enam hari ini juga berfungsi sebagai indikator akurat dari peta geopolitik kontemporer. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa delegasi dari 110 negara hadir memberikan penghormatan terakhir.
Secara kontras, ketidakhadiran total dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat semakin mempertegas garis demarkasi diplomatik global. Sebaliknya, kehadiran para pemimpin dan utusan tingkat tinggi dari berbagai belahan dunia memperlihatkan pergeseran poros pengaruh:
  • Rusia & China: Moskow mengirimkan Wakil Ketua Dewan Keamanan sekaligus mantan Presiden Dmitry Medvedev, sementara Beijing diwakili oleh He Wei, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional. Kehadiran dua kekuatan besar ini menegaskan kemitraan strategis yang solid.
  • Kawasan Asia Selatan & Tengah: Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif hadir bersama Kepala Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir, menggarisbawahi peran Pakistan sebagai mediator regional. Presiden Tajikistan Emomali Rahmon dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan juga hadir secara langsung.
  • Timur Tengah: Wakil Presiden Turki Cevdet Yilmaz hadir mewakili Ankara, berdampingan dengan delegasi diplomatik dari Arab Saudi yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Walid Al-Khuraiji, serta delegasi resmi dari Qatar.
  • Asia Tenggara: Indonesia memosisikan diri secara hati-hati melalui jalur diplomasi formal dengan mengutus Duta Besar RI untuk Tehran, Rolliansyah Soemirat.
Kematian seorang pemimpin tertinggi bukanlah sekadar hilangnya sebuah nyawa dalam kalkulasi biologis, melainkan runtuhnya sebuah jangkar teologis-politik yang selama ini menahan keseimbangan di Timur Tengah. Ketika ratusan ribu manusia turun ke jalan menuntut pembalasan, kita tidak sedang melihat histeria massa, melainkan pembacaan ulang atas teks keadilan internasional yang selama ini dimonopoli oleh kekuatan hegemonik Barat.
Absennya Barat di Teheran bukan sekadar boikot diplomatik, melainkan pengakuan tidak langsung bahwa hukum internasional telah digantikan oleh hukum rimba geopolitik. Pada akhirnya, peti jenazah kecil seorang bayi di samping pemimpin besar adalah dekonstruksi paling jujur bahwa dalam perang modern, moralitas universal sering kali habis terbakar oleh ego kekuasaan.
Reporter: Anata Fahur ,Tim Koresponden Internasional
Editor: Ismail Saleh

Baca juga: Perkokoh Diplomasi Pertahanan: Menhan Sjafrie Terima Kunjungan Kehormatan Duta Besar Maroko Perkuat Hubungan Bilateral

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu