YOGYAKARTA — Jejak News, Sebuah lompatan progresif dalam dunia kesehatan publik tanah air resmi diuji coba di Kota Pelajar. Pemerintah memutus rantai stigmatisasi menahun yang menganggap Human Papillomavirus (HPV) hanya sebagai ancaman eksklusif bagi kaum hawa. Melalui momentum Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2026, imunisasi HPV kini resmi menyasar anak laki-laki kelas 5 Sekolah Dasar (SD) sebagai subjek proteksi utama.
Kepala Puskesmas Kotagede II, dr. Atika Anggiasih, menegaskan bahwa perluasan jangkauan imunisasi ini didasarkan pada realitas medis yang objektif. Selama ini, narasi publik cenderung bias dengan mengaitkan HPV hanya pada komplikasi kanker serviks. Padahal, mutasi virus ini memiliki daya rusak yang sama fatalnya pada anatomi tubuh pria.
“HPV bukan hanya menyebabkan kanker serviks, tetapi juga beberapa jenis kanker lain seperti kanker anus dan kanker orofaring yang juga bisa menyerang laki-laki. Selain itu, ada beberapa tipe HPV yang menyebabkan kutil kelamin atau kondiloma akuminata,” ujar dr. Atika saat memantau pelaksanaan imunisasi di SD Intis School Kotagede, Kota Yogyakarta, Selasa (4/8/2026).
Dalam kalkulasi epidemiologi, keterlibatan anak laki-laki dalam ekosistem vaksinasi ini memegang peran krusial sebagai strategi memutus mata rantai penularan. Pria sering kali bertindak sebagai carrier atau pembawa virus yang asimtomatik (tanpa gejala), namun berpotensi besar menularkan agen karsinogenik tersebut kepada pasangannya kelak.
Pada implementasi teknis BIAS tahun ini, siswa kelas 5 SD—baik perempuan maupun laki-laki—akan menerima suntikan dosis pertama. Pemerintah juga telah menyiapkan jaring pengaman berupa sistem “imunisasi kejar” bagi anak-anak yang terlewat, yang akan difasilitasi saat mereka duduk di bangku kelas 6 SD atau ketika memasuki usia pubertas 14 hingga 15 tahun di tingkat SMP.
Menghadapi potensi resistensi atau kecemasan publik, dr. Atika memastikan bahwa pasokan vaksin HPV yang digunakan telah melalui uji klinis berskala global dan terbukti aman. Hingga saat ini, tidak ditemukan indikasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang bersifat berat atau mengancam jiwa. Reaksi pasca-suntik yang muncul umumnya berada dalam koridor normal, seperti demam minor atau inflamasi lokal di area lengan yang dapat diredam dengan kompres serta antipiretik biasa.
Kota Yogyakarta sendiri ditunjuk sebagai salah satu daerah percontohan nasional dalam proyek penanggulangan kanker terintegrasi ini. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, terdapat sebanyak 3.146 siswa laki-laki kelas 5 SD yang menjadi target sasaran utama dalam intervensi medis ini. Edukasi masif kini terus digulirkan kepada para orang tua agar memahami bahwa investasi imunitas hari ini adalah penentu kualitas hidup generasi masa depan.
Reporter: Maulana| Editor: Ismail Saleh





