PUPR Kota Tangerang

IRAN TERAPKAN ATURAN TRANSIT KETAT SAAT NEGOSIASI DENGAN AS DI AMBANG BATAS

Latar Belakang Berdarah dan Risiko Eskalasi
Kelanjutan blokade pelabuhan oleh AL Amerika Serikat
TEHERAN, Jejak News – Dunia internasional kini menaruh perhatian penuh pada Selat Hormuz. Menyusul gencatan senjata di Lebanon, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan doktrin keamanan baru yang mengubah total peta navigasi di jalur kargo energi terpenting dunia tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Teheran tidak akan lagi menunjukkan “kelonggaran” dalam menjaga kedaulatan maritimnya. Di bawah aturan baru yang berlaku efektif pekan ini, setiap kapal sipil yang melintas diwajibkan mengikuti rute spesifik yang ditetapkan oleh otoritas Iran.
Lebih lanjut, IRGC secara tegas melarang seluruh kapal militer asing untuk melintasi Selat Hormuz. Setiap pergerakan di wilayah tersebut kini wajib dikoordinasikan dan mendapatkan izin dari pusat komando angkatan laut Iran. Langkah ini disebut sebagai respons langsung terhadap blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat yang hingga kini masih berlangsung.
Meski IRGC memperketat kendali, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat memberikan pernyataan yang lebih lunak dengan menyebut jalur komersial tetap “terbuka sepenuhnya”. Namun, pengamat menilai ini adalah strategi good cop, bad cop untuk menjaga stabilitas pasar minyak global sekaligus memberikan tekanan maksimal di meja perundingan.
Dari sisi Washington, Presiden Donald Trump tetap bersikeras pada kebijakan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. “Blokade akan tetap berlaku penuh hingga kesepakatan final ditandatangani,” tegas Trump. Meskipun Wakil Presiden JD Vance sempat menyatakan kegagalan pembicaraan di Islamabad pada 12 April lalu, Trump memberikan sinyal optimisme bahwa pertemuan lanjutan bisa terjadi paling cepat akhir pekan ini.
Ketegangan ini merupakan puncak dari rentetan peristiwa militer sejak 28 Februari, ketika serangan udara Amerika Serikat dan Israel menghantam target-target di Teheran yang menyebabkan jatuhnya korban sipil. Kondisi ini membuat situasi di Selat Hormuz menjadi sangat sensitif; satu kesalahan koordinasi di laut dapat memicu konfrontasi terbuka yang lebih luas.
Kini, mata dunia tertuju pada rencana pertemuan Washington-Teheran akhir pekan ini. Apakah diplomasi akan mampu melonggarkan cengkeraman di Selat Hormuz, ataukah blokade dan aturan transit ketat ini akan menjadi pematik krisis energi global baru?

Pewarta: Ananta Fathur | Editor: Ismail Saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu