JAKARTA, Jejak News— Situasi di jantung ibu kota berangsur-angsur pecah konsentrasi menjelang larut malam. Gelombang massa mahasiswa yang memadati koridor Jalan Jenderal Sudirman hingga M.H. Thamrin dilaporkan mulai membubarkan diri secara bergelombang sejak pukul 19.38 WIB. Kendati demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda seiring bertahannya kelompok massa tanpa almamater di kawasan Halte Tosari, Jakarta Pusat, Jumat (12/6) malam.
Aksi penyampaian aspirasi akbar yang sempat melumpuhkan urat nadi transportasi Jakarta ini menyisakan kluster massa yang masih bertahan di depan barikade ketat aparat kepolisian hingga pukul 20.35 WIB. Di tengah situasi krusial tersebut, pengamanan ketat yang melibatkan unsur TNI-Polri berhasil menggagalkan upaya sabotase anarkis dari kelompok penyusup luar.
Penyusup Bersenjata Bom Molotov Diringkus di Benhil
Aparat penegak hukum bergerak cepat mengamankan jalannya aksi dari potensi kerusuhan sistemik. Satgas Gakkum Polda Metro Jaya secara taktis berhasil meringkus dua orang pria di kawasan Bendungan Hilir (Benhil) pada pukul 15.30 WIB yang kedapatan membawa sejumlah bom molotov siap ledak.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menegaskan bahwa kedua oknum tersebut bukanlah bagian dari aliansi mahasiswa, melainkan kelompok eksternal yang mencoba mendompleng dan merusak kesucian aspirasi pemuda.
“Satgas Gakkum Polda Metro Jaya sudah mengidentifikasi beberapa kelompok orang yang akan bergabung dengan kelompok aksi mahasiswa. Dua orang membawa molotov sudah diamankan di wilayah Benhil. Kami dari pagi sudah mem-profiling untuk mengawal agar aspirasi mahasiswa ini tetap aman dan damai,” tegas Kombes Budi Hermanto di lokasi aksi, Jumat (12/6).
Mahasiswa IPB, UI, dan UP Tarik Diri; Ojol Bertahan di Tosari
Laporan langsung jurnalis Jejak News di lapangan menunjukkan peta pergerakan massa yang mulai terurai. Elemen mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Pancasila (UP) terpantau menjadi kelompok pertama yang membubarkan diri secara tertib pada pukul 19.38 WIB, disusul oleh rombongan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada pukul 20.35 WIB.
Meskipun almamater hijau dan kuning telah meninggalkan aspal Sudirman, titik api konsentrasi massa bergeser ke area sekitar Halte Tosari. Massa yang bertahan di lokasi ini didominasi oleh warga sipil bermasker serta kelompok pengemudi ojek online (ojol) yang bergabung sejak sore hari. Mereka masih tertahan di depan barikade kawat berduri polisi demi mencoba menembus akses menuju Bundaran HI.
Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Reynold Hutagalung, turun langsung ke tengah jalan untuk melakukan negosiasi humanis. Perwira menengah tersebut membujuk massa yang tersisa untuk berjalan mundur ke arah Semanggi agar arus lalu lintas menuju Bundaran HI yang sempat dialihkan ke Jalan Karet Pasar Baru Timur III bisa kembali dibuka normal.
Regulasi Larangan Demo di Episentrum Jakarta
Pihak otoritas menegaskan bahwa pengerahan personel gabungan TNI dan Polri di kawasan Bundaran HI merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 232 Tahun 2015. Berdasarkan regulasi tersebut, sejumlah titik vital seperti Bundaran HI, Bundaran Senayan, Semanggi, dan Patung Kuda merupakan zona merah yang dilarang untuk aktivitas unjuk rasa demi menjaga stabilitas ekonomi dan mobilitas publik.
“Ini merupakan episentrum lalu lintas. Apabila terjadi kepadatan, berdampak ke jalur arteri lainnya. Kebebasan berekspresi secara konstitusional harus tetap berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak mobilitas masyarakat luas,” tambah Kombes Budi Hermanto.
Sebelumnya, pihak kepolisian telah menawarkan opsi relokasi tempat demonstrasi yang legal ke Gedung DPR/MPR atau kawasan Silang Monas/Patung Kuda, namun aliansi massa memilih bertahan di koridor bisnis Sudirman-Thamrin guna menyuarakan lima tuntutan krusial mereka:
-
- Hentikan pemborosan APBN.
- Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
- Evaluasi total/hentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
- Hentikan militerisme di ranah sipil.
- Mendesak Presiden Prabowo untuk mengakui kesalahan tata kelola pemerintahan.
Saat malam merayap di antara pencakar langit Sudirman, Jakarta perlahan bernapas lega dari ketegangan yang membubung sejak siang. Langkah kaki ribuan mahasiswa yang kembali ke kampus mereka adalah bukti nyata bahwa nalar kritis pemuda masih berdiri tegak di koridor aturan hukum yang berlaku.
Penggagalan penyelundupan bom molotov di sudut Benhil menjadi pengingat mahalnya harga sebuah perdamaian di ruang publik. Di bawah temaram lampu jalan halte Tosari yang mulai lengang, ibu kota kembali membuktikan ketangguhannya—di mana suara perubahan tetap menggema lantang tanpa harus mengorbankan kedamaian warga yang ingin pulang.
Reporter: Limbong| Editor: Ismail Saleh





