JAKARTA, Jejak News – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi dunia dan eskalasi geopolitik yang memicu fluktuasi harga komoditas, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menunjukkan performa yang tangguh. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (6/4/2026), memaparkan optimisme fiskal yang berakar pada perlindungan daya beli masyarakat dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Kabar paling krusial bagi publik adalah komitmen Pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini diambil sebagai langkah intervensi strategis untuk menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga, dengan asumsi harga minyak mentah rata-rata berada pada level USD 100 per barel.
Hingga akhir kuartal pertama 2026, pendapatan negara mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 10,5 persen (yoy), menyentuh angka Rp574,9 triliun. Lonjakan ini didorong oleh sektor perpajakan yang melesat 20,7 persen, mencerminkan kepatuhan pajak yang membaik dan aktivitas ekonomi yang terus bergeliat.
Meskipun belanja negara melaju hingga Rp815,0 triliun (tumbuh 31,4 persen yoy) untuk mengakselerasi pembangunan dan perlindungan sosial, Bendahara Negara memastikan defisit tetap terjaga pada level sangat aman, yakni 0,93 persen dari PDB.
Purbaya juga menyoroti beberapa dinamika internal dan eksternal yang memengaruhi postur APBN:
- Terdapat koreksi pada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) akibat tekanan harga migas dan pengalihan dividen BUMN ke institusi Danantara. Namun, sektor SDA Nonmigas tetap tumbuh 7,1 persen berkat penguatan harga komoditas tambang global.
- Kinerja PNBP Kementerian/Lembaga (K/L) naik signifikan sebesar 22 persen, yang mengindikasikan perbaikan layanan publik dan penegakan hukum yang lebih kredibel.
- Sektor riil menunjukkan ketahanan luar biasa dengan ekspansi industri manufaktur selama delapan bulan berturut-turut, menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Stabilitas ini bukan kebetulan, melainkan hasil koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang presisi. Kami menyediakan ruang bagi ekonomi Indonesia untuk terus ekspansif tanpa mengorbankan stabilitas harga,” jelas Purbaya.
Pewarta: Ryan Mihardja | Editor: Ismail Saleh







