PUPR Kota Tangerang

Episentrum Rapuh, Antara Patahan Bumi dan Retaknya Solidaritas Sosial

Pasien rumah sakit di kursi roda dievakuasi ke area terbuka di depan gedung RS Siloam Manado pasca gempa M 7,6.
Nalar yang Teruji dalam Kepanikan: Sejumlah pasien RS Siloam Manado terpaksa menjalani perawatan di area lobi dan halaman gedung setelah guncangan hebat magnitudo 7,6 memaksa evakuasi darurat melalui tangga belakang, Kamis (2/4). Sebuah potret betapa rapuhnya batas antara keamanan medis dan ancaman alam.
Jejak News-Indonesia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Di saat nalar publik disibukkan oleh rutinitas birokrasi, alam memberikan “interupsi” keras melalui guncangan magnitudo 7,6 di perairan Bitung. Gempa ini bukan sekadar angka di seismograf atau titik koordinat di peta BMKG; ia adalah alarm bagi kemanusiaan kita yang seringkali terlelap dalam kenyamanan semu.
Kematian satu warga di Manado akibat reruntuhan GOR KONI adalah sebuah ironi yang tajam. GOR, yang seharusnya menjadi simbol kekuatan fisik dan ruang publik, justru menjadi liang lahat prematur. Ini adalah kritik pedas bagi infrastruktur kita. Mengapa bangunan publik gagal menjadi suaka? Evakuasi pasien RS Siloam yang merangkak di tangga darurat adalah potret nyata betapa rapuhnya sistem mitigasi kita ketika berhadapan dengan hukum alam yang absolut. Di situ, martabat manusia diuji di antara debu reruntuhan dan kepanikan yang akut.

Di Maluku Utara, dari Pulau Batang Dua hingga Ternate Selatan, gereja dan rumah-rumah warga retak. Alam tidak memilih subjeknya berdasarkan iman atau strata sosial. Peringatan tsunami yang sempat menyalak mengingatkan kita bahwa pesisir adalah garis depan yang paling rentan. Ketinggian air 0,3 meter mungkin kecil bagi statistik, namun ia adalah ancaman eksistensial bagi mereka yang menggantungkan hidup di bibir pantai.
Jika kita menengok jendela Informasi  hari ini, narasi gempa ini bersanding dengan isu-isu yang tak kalah “mengguncang” secara sosiopolitik, yakni WFH ASN vs Realitas Lapangan, Pemerintah merayakan efisiensi melalui kebijakan WFH setiap Jumat. Namun, bagi warga Sulawesi Utara yang hari ini bahu-membahu di bawah tenda darurat, “bekerja dari rumah” adalah kemewahan yang mustahil. Ada diskoneksi antara kenyamanan regulasi di pusat dengan urgensi evakuasi di daerah.

Ekonomi yang Fluktuatif, yakni Di saat harga perak melonjak dan pasar kripto menghijau, warga di Bitung justru kehilangan dinding tempat mereka berteduh. Ada ketimpangan narasi antara kemakmuran digital dan keamanan fisik. Dunia sibuk menghitung profit, sementara rakyat di pelosok sibuk menghitung retakan di dinding rumah mereka.

Perhatian dunia kini tertuju pada Indonesia, bukan hanya karena besarnya angka magnitudo, tapi karena ketangguhan rakyatnya yang “baku dukung” (saling dukung) dalam situasi kritis. Gempa ini adalah ujian bagi akal sehat kolektif. Jangan sampai kita hanya sibuk memotret fenomena Pink Moon yang indah semalam, namun buta terhadap kegelapan yang dialami saudara kita di Sulawesi Utara dan Maluku Utara hari ini.

Bencana adalah momen di mana politik harus menanggalkan topengnya dan kembali pada tugas primernya, yakni  melindungi nyawa. Kita tidak butuh sekadar data statistik kerusakan tapi  kita butuh komitmen untuk membangun kembali dengan nalar yang lebih manusiawi. Alam sudah bicara, sekarang giliran nurani kita yang menjawab.
Penulis: Ananta Fathur
Editor: Armand

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu