PUPR Kota Tangerang

TRAGEDI PERIUK, MONUMEN KEGAGALAN KEBIJAKAN DAN PAMERAN KEMANUSIAAN YANG PALSU

Ketua FLI, Armand, saat memantau kondisi Perumahan Periuk Damai yang terendam hingga atap. Pemandangan ini mencerminkan kontras tajam antara ambisi infrastruktur pusat dan realitas kerentanan ekologis di tingkat tapak yang diabaikan.
Foto udara pemukiman Periuk Damai Tangerang yang terendam banjir parah, menunjukkan lumpuhnya aktivitas dan krisis kemanusiaan yang mendalam.
KOTA TANGERANG, Jejak News – Di tengah gegap gempita narasi “Indonesia Emas”, genangan air di Perumahan Periuk Damai, Kota Tangerang, hari ini (Rabu, 11/03/2026) hadir sebagai monumen kegagalan peradaban kebijakan kita. Ketua Umum Forum Lembaga Indonesia (FLI), Armand, menegaskan bahwa air setinggi 3,5 meter yang merendam ribuan rumah bukan sekadar fenomena alam atau anomali hidrologi, melainkan bukti visual dari sebuah kejahatan ekologis yang dipelihara oleh kekuasaan yang tuna-etika.
“Ribuan warga yang kini berdesakan di pengungsian dengan ancaman penyakit bukanlah korban takdir. Mereka adalah korban dari kegagalan mitigasi yang kronis. Pemerintah terus-menerus mengoperasikan pompa sebagai solusi teknokratis yang dangkal, sementara mereka gagal menyentuh akar masalah,yakni  manipulasi ruang dan izin pembangunan yang ugal-ugalan,” tegas Armand dalam keterangan resminya.

Ratusan warga Periuk Damai Kehilangan sementara rumah tinggal mereka, impian harapan jelang hari raya tak lagi dirasakan
FLI mendesak dilakukannya audit kebijakan secara total terhadap para pengembang di wilayah Periuk. Armand mempertanyakan mengapa izin perumahan tetap diberikan di atas lahan yang secara alami merupakan “rahim air” tanpa kompensasi ekologis yang setara. Menurutnya, kejahatan ekologis berakar pada kebijakan yang manipulatif, di mana izin diterbitkan di bawah meja dengan mengabaikan hak-hak alam. Membiarkan rakyat tenggelam dalam rumah mereka sendiri adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap kontrak sosial antara negara dan warga.

Armand juga menyoroti fenomena pejabat yang turun ke lapangan hanya untuk melakukan “pameran kemanusiaan yang palsu” demi konten kamera. “Sangat menjijikkan melihat aksi teatrikal memanggul bantuan jika tidak dibarengi dengan keberanian untuk mundur dari jabatan sebagai bentuk pertanggungjawaban etis. Pejabat yang gagal mengantisipasi bencana tahunan ini seharusnya memiliki rasa malu intelektual,” tambahnya.
Pintu masuk periuk Damai kini menjadi pembatas dataran kering dan basah

FLI secara resmi mendesak sejumlah pejabat terkait di tingkat Kota maupun Kabupaten maupun  Provinsi hingga kementerian untuk segera meletakkan jabatan. Banjir Periuk adalah bukti bahwa pemerintah tidak memahami etika publik dalam mengantisipasi bencana. Mereka hanya sibuk menangani akibat, namun takut menghadapi sebab, karena sebabnya adalah kebijakan mereka sendiri yang korup secara ekologis.

Baca juga: Nestapa Berulang di Periuk Damai, Di Antara Asa yang Patah dan Urgensi Redesain Solusi Struktural

“Hujan itu kiriman Tuhan, tapi banjir itu kiriman kebijakan yang dungu. Jangan pamer kemanusiaan jika akal sehat Anda masih tergenang kepentingan korporasi. Berhentilah memompa air, mulailah memompa logika kebijakan Anda yang bocor”,Tutupnya(Ryan Mihardja/ARM)

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu