JN-Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengintensifkan pengerjaan rehabilitasi di 38 muara sungai yang tersebar di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah ini diambil untuk memulihkan infrastruktur sumber daya air sekaligus membentengi masyarakat pesisir dari ancaman banjir rob dan sedimentasi ekstrem pascabencana.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penanganan muara merupakan pekerjaan teknis yang kompleks. Karakteristik tiap muara yang unik, mulai dari morfologi sungai hingga pola pasang surut, menuntut pendekatan yang berbeda di setiap lokasi.
“Muara besar yang mengalami pendangkalan hebat akan kita tangani menggunakan kapal keruk (dredger). Kita ingin memastikan aliran air dari hulu ke hilir kembali lancar tanpa terhambat sedimen,” ujar Menteri Dody.
Baca juga: Imlek 2577 Kongzili, Menag: Semoga Tahun ini Membawa Kedamaian dan Kesejahteraan
Dari total 38 muara yang terdampak, 25 di antaranya merupakan kewenangan nasional, sementara 13 lainnya adalah kewenangan provinsi. Meski demikian, Kementerian PU mengambil langkah integratif dengan menangani seluruh muara tersebut demi percepatan pemulihan wilayah.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian PU juga bersinergi dengan Satgas Kuala yang dibentuk oleh Menteri Pertahanan. Kolaborasi ini bertujuan untuk mempercepat normalisasi dan pendalaman alur di wilayah-wilayah kritis yang terdampak bencana.
Berdasarkan data hingga pertengahan Februari 2026, progres fisik di lapangan terus menunjukkan tren positif:
-
Rata-rata Nasional: Penanganan telah mencapai 35,5%.
-
Muara Kewenangan Pusat: Mencapai 40%.
-
Muara Kewenangan Provinsi: Mencapai 31%.
Pemerintah mematok target ambisius agar seluruh rangkaian pekerjaan ini rampung sepenuhnya pada Oktober 2027.
Untuk memastikan efektivitas pengerjaan, berbagai alat berat diterjunkan sesuai kondisi lapangan, mulai dari excavator long arm, excavator amphibi, hingga alat berat berbasis ponton. Selain pengerukan, Kementerian PU juga fokus pada:
-
Normalisasi Alur: Mengembalikan kapasitas tampung sungai.
-
Penguatan Tebing: Mencegah abrasi dan longsoran susulan.
-
Infrastruktur Pengendali: Pembangunan struktur sabo dan pengaman muara untuk meminimalkan risiko bencana di masa depan.
Percepatan penanganan muara ini bukan sekadar urusan teknis pembangunan, melainkan bagian dari strategi mitigasi bencana berbasis infrastruktur. Dengan pulihnya akses muara, aktivitas ekonomi masyarakat pesisir—khususnya para nelayan dan sektor logistik laut—diharapkan dapat segera bangkit kembali di tengah tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem.(Yonex)







