TANGERANG — Jejak News, Ruang publik bukan sekadar komoditas visual, melainkan episentrum interaksi sosial dan manifestasi peradaban sebuah kota. Bergerak atas dasar urgensi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang secara resmi memulai proyek intervensi fisik berupa peremajaan struktur Lapangan Ahmad Yani, yang menjadi jantung Alun-Alun Kota Tangerang. Langkah taktis ini dijadwalkan bergulir secara intensif selama beberapa hari ke depan.
Secara fungsional, akselerasi pembenahan ini didesain sebagai langkah preparasi menyambut momentum nasional, yakni perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Alun-alun ikonik ini diproyeksikan menjadi panggung utama seluruh rangkaian upacara sakral dan aktivitas seremonial di tingkat kota.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang, Kaonang, menegaskan bahwa tata kelola perawatan ini menuntut akurasi tinggi. Pihaknya berkolaborasi aktif dengan mengandalkan unit teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang untuk menjaga ritme kerja tetap berada dalam koridor target.
“Kami melakukan supervisi ketat secara berkala. Berdasarkan kalkulasi teknis di lapangan, proses peremajaan yang dieksekusi oleh Tim Dinas PUPR ini diestimasi akan mencapai konvergensi final dalam waktu dua hingga tiga hari ke depan,” ungkap Kaonang saat memberikan keterangan pers pada Rabu (22/7/2026).
Secara spesifik, anatomi perbaikan tidak menyasar pada aspek artifisial luar, melainkan pada pembenahan fondasi. Karakteristik Lapangan Ahmad Yani yang menggunakan material rumput sintetis membutuhkan sub-base course atau lapisan dasar yang solid. Penurunan kualitas di beberapa titik diatasi dengan mengganti material pasir fondasi lama dengan agregat pasir baru yang lebih stabil.
Langkah leveling atau perataan ulang ini dipandang krusial. Selain demi menjamin kelancaran baris-berbaris pasukan pengibar bendera pada upacara 17 Agustus nanti, intervensi ini juga berorientasi jangka panjang agar masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas olahraga publik ini pasca-event dengan tingkat keamanan (safety) yang terstandarisasi.
Kendati alat berat dan material teknis ditempatkan di beberapa sektor lapangan, otoritas setempat memilih kebijakan inklusif dengan tidak melakukan penutupan total terhadap akses publik. Kebijakan ini diambil agar fungsi rekreatif masyarakat tidak lumpuh secara total selama proses pengerjaan.
“Aksesibilitas Alun-Alun Ahmad Yani secara umum tetap kami buka untuk publik. Namun, demi menegakkan prosedur keselamatan kerja dan menjaga presisi hasil pengerjaan, kami memberlakukan sterilisasi dan pembatasan ketat di sejumlah titik restrukturisasi. Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan visual saat beraktivitas di sekitar area,” pungkas Kaonang.
Reporter: Ridwan| Editor: Ismail Saleh





