JN-Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, menelurkan inovasi taktis dalam sistem pembinaan pemasyarakatan. Melalui program pembekalan keterampilan kerja, pihak Lapas sukses mengembangkan budidaya ikan sidat komersial yang melibatkan peran aktif para warga binaan. Program ini dirancang dari hulu hingga ke hilir untuk memberikan bekal keahlian nyata sekaligus menghidupkan urat nadi ekonomi sirkular warga di sekitar wilayah penyangga.
Langkah terobosan ini merupakan wujud nyata implementasi program Pembangunan untuk Semua yang inklusif dan humanis. Pemerintah memandang bahwa masa pidana di dalam lapas harus ditransformasikan menjadi fase produktif. Dengan mempelajari teknik budidaya sidat yang dikenal memiliki draf perawatan bernilai tinggi dan pangsa pasar ekspor yang luas, para warga binaan dibekali modal kemandirian yang kuat agar tidak canggung saat kembali membaur ke masyarakat arus bawah.
Tata kelola program budidaya ini dikawal secara ketat dengan sistem manajemen yang transparan dan akuntabel. Pihak lapas berkolaborasi dengan kelompok tani lokal dan teknolog perikanan guna memastikan kualitas air dan pakan tetap higienis dari pencemaran. Menariknya, aktivitas pemeliharaan ini tidak hanya menjadi sarana asimilasi yang mendidik bagi warga binaan, tetapi juga menggerakkan rantai pasok ekonomi daerah tapak mulai dari penyediaan bibit (glass eel) hingga pemasaran hasil panen.
“Budidaya sidat di Nusakambangan ini adalah jangkar kemandirian bagi warga binaan kita. Kita ingin memastikan mereka keluar dari sini membawa keahlian produktif yang berdaya saing tinggi. Melalui manajemen program yang bersih dari penyimpangan dan berorientasi kerakyatan, komoditas premium ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi warga sekitar dan memberikan sumbangsih berwibawa bagi sektor perikanan nasional,” jelas perwakilan pengelola lapas.(Yonex)





