Antisipasi Kepadatan Massa, Kemenhaj Perkuat Posko Layanan Jemaah di Jamarat pada Fase Mina

JN-Guna menjamin keselamatan dan kenyamanan jemaah haji Indonesia selama fase krusial di Mina, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia secara masif memperkuat posko pelayanan dan perlindungan di sepanjang jalur menuju struktur Jamarat (tempat melontar jumrah). Langkah penguatan hulu ini difokuskan pada penambahan personel taktis, penataan posko kesehatan satelit, serta pengetatan pengawasan jadwal melontar untuk memitigasi risiko kelelahan ekstrem dan penumpukan massa.

Area Jamarat dinilai sebagai salah satu titik dengan dinamika pergerakan massa paling tinggi di dunia, sehingga memerlukan pengawalan protokoler yang presisi, responsif, dan berbasis perlindungan jemaah (safety-first).

Kemenhaj menempatkan ratusan petugas gabungan dari unsur Perlindungan Jemaah (Linjam), Tim Pertolongan Pertama Pada Jemaah Haji (P3JH), dan jajaran tim medis di titik-titik strategis, mulai dari pintu keluar terowongan Mina (Terowongan Muaisim) hingga rute kepulangan dari Jamarat. Fokus utama penguatan layanan kali ini diarahkan pada penyaringan (screening) dan pelarangan jemaah lansia, risti (risiko tinggi), serta penyandang disabilitas untuk melakukan pelontaran secara mandiri pada jam-jam puncak (peak hours), dengan mengalihkan pemenuhan kewajibannya melalui skema badal.

Baca juga: Rampungkan Fase Krusial Armuzna, Wamenhaj Konfirmasi Seluruh Jemaah Haji RI Bergeser ke Makkah

“Penguatan layanan di Jamarat merupakan pilar vital dalam arsitektur mitigasi krisis Kemenhaj pada fase Mina. Kami tidak hanya menempatkan personel untuk penunjuk arah, melainkan menyiagakan posko stasioner yang dilengkapi dengan kursi roda cadangan, pasokan air minum untuk mencegah dehidrasi, serta tim medis yang siap melakukan tindakan darurat di lapangan,” ungkap koordinator lapangan Sektor Jamarat Kemenhaj, Minggu (31/5/2026).

Kemenhaj juga secara intensif memanfaatkan sistem pengeras suara portabel dan koordinasi melekat dengan para ketua kloter untuk memastikan jemaah bergerak dalam formasi yang tertib dan mematuhi koridor waktu (time slot) yang telah disepakati bersama otoritas keamanan Arab Saudi.

Langkah preventif ini terbukti efektif dalam memecah kepadatan arus jemaah Indonesia, sehingga dapat meminimalkan risiko terjebak di tengah arus massa lintas negara yang memiliki postur dan ritme pergerakan berbeda.

Baca juga: Kemenhaj Klarifikasi Perlambatan Distribusi Konsumsi Kloter SUB-72 dan Pastikan Langkah Mitigasi di Mina

Melalui komitmen pengawalan yang ketat dan integratif di area Jamarat ini, pemerintah optimistis dapat menekan angka kesakitan (morbidity rate) jemaah secara signifikan selama prosesi di Mina. Keberhasilan sterilisasi jalur dan kesigapan posko layanan ini diharapkan menjadi tolok ukur standardisasi manajemen krisis perlindungan jemaah pada penyelenggaraan ibadah haji di masa depan.(Yonex)

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu