Uji Ketahanan Makro: Ekonom Sebut Stabilitas Rupiah Jadi Bantalan Krusial Resiko Eksternal

JN-Di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global, pergerakan nilai tukar Rupiah dinilai memainkan peran krusial sebagai instrumen penyangga utama (shock absorber) dalam meredam tekanan ekonomi domestik. Para pakar ekonomi makro optimistis bahwa daya tahan fundamental moneter Indonesia yang solid, didukung oleh bauran kebijakan Bank Indonesia yang taktis, mampu menjaga stabilitas ekosistem investasi dan memitigasi risiko rambatan eksternal.

Kemampuan Rupiah dalam menjaga fluktuasinya di zona aman menjadi bantalan penting bagi sektor manufaktur dan perdagangan nasional, sehingga pemulihan ekonomi domestik tetap berjalan di jalur yang stabil (on-track).

Para ekonom menilai, ketangguhan mata uang Garuda tidak lepas dari pengelolaan cadangan devisa yang kuat serta efektivitas implementasi kebijakan intervensi ganda (double intervention) di pasar valuta asing. Selain itu, kebijakan insentif penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri terbukti efektif mempertebal likuiditas valas domestik, sekaligus memperkuat struktur penawaran dan permintaan di pasar uang.

Baca juga: Bapenda Kota Tangerang Perkuat ETPD Lewat Sosialisasi Pajak dan Retribusi Daerah

“Rupiah kini memegang peran vital sebagai garda pertahanan dan penyangga utama dari transmisi guncangan global ke sektor riil. Ketika terjadi guncangan arus modal keluar (capital outflow) akibat sentimen suku bunga global, stabilitas nilai tukar yang terjaga akan mencegah lonjakan inflasi barang impor (imported inflation), sehingga daya beli masyarakat di dalam negeri tetap terlindungi,” ungkap seorang ekonom senior nasional, Sabtu (30/5/2026).

Meskipun demikian, tantangan ke depan tetap menuntut kewaspadaan tinggi. Para pelaku industri dan otoritas moneter diimbau untuk terus memperluas pemanfaatan skema transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam perdagangan bilateral guna mengurangi ketergantungan sistemik terhadap dolar AS.

Sinergi yang erat antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal Kementerian Keuangan dinilai menjadi kunci utama untuk mempertahankan premi risiko investasi Indonesia tetap kompetitif di mata investor portofolio internasional.

Baca juga: Rupiah Terperosok ke Rp 17.801 per Dolar AS, Sentimen Kebijakan Ekspor Danantara dan Arus Modal Keluar Jadi Pemicu Utama

Melalui penguatan jangkar stabilitas Rupiah ini, ekonomi nasional diyakini memiliki fondasi yang cukup tebal untuk menghadapi potensi perlambatan ekonomi global. Optimisme ini diharapkan dapat terus memacu produktivitas sektor riil, mendorong ekspansi ekspor bernilai tambah, serta mempercepat perwujudan ketahanan ekonomi nasional yang mandiri dan berkelanjutan.(Yonex)

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu