JN-Lonjakan tren harga logam mulia di pasar global dinilai menjadi pisau bermata dua sekaligus peluang strategis bagi pertumbuhan ekonomi domestik. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama para pelaku usaha optimistis bahwa industri perhiasan nasional tetap menunjukkan performa yang menjanjikan dan tangguh. Sektor ini diproyeksikan mampu mempertahankan kontribusi positifnya terhadap perolehan devisa negara melalui penguatan penetrasi pasar ekspor dan inovasi desain bernilai tambah tinggi.
Meskipun kenaikan harga bahan baku emas menuntut penyesuaian strategi pembiayaan manufaktur, tingginya minat masyarakat terhadap aset aman (safe haven) justru menjadi stimulus sekunder bagi rantai pasok industri perhiasan dalam negeri.
Guna menyiasati volatilitas harga logam mulia, pelaku industri perhiasan nasional kini secara taktis menggeser fokus pada keunggulan estetika, kerajinan tangan khas (craftsmanship), serta pemanfaatan teknologi permesinan presisi tinggi. Langkah hilirisasi ini diambil agar produk perhiasan jadi asal Indonesia tidak hanya dinilai dari bobot komoditasnya semata, melainkan dari nilai seni dan eksklusivitasnya yang mampu menarik premium harga di pasar internasional.
Baca juga: Bapenda Kota Tangerang Perkuat ETPD Lewat Sosialisasi Pajak dan Retribusi Daerah
“Tren logam mulia yang menggiurkan ini harus direspons dengan penguatan struktur industri hilir. Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah. Industri perhiasan nasional memiliki kapasitas besar untuk mengolah emas dan perak menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Pemerintah berkomitmen terus memfasilitasi kemudahan bahan baku dan promosi luar negeri agar sektor ini tetap ekspansif,” ungkap perwakilan direktorat jenderal teknis Kemenperin, Sabtu (30/5/2026).
Pemerintah mencatat, pasar ekspor utama bagi produk perhiasan Indonesia seperti Singapura, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan beberapa kawasan di Eropa masih menunjukkan permintaan yang stabil.
Selain ekspor, penguatan pasar domestik juga dilakukan melalui program kemitraan antara pabrikan skala besar dengan pengrajin lokal (IKM). Sinergi ini mencakup transfer teknologi desain berbasis Computer-Aided Design (CAD) serta sertifikasi keaslian produk, yang krusial untuk meningkatkan kepercayaan konsumen di era perdagangan digital (e-commerce).
Melalui konsistensi hilirisasi dan adaptasi strategi pemasaran yang fleksibel, industri perhiasan nasional diyakini mampu mengubah tantangan tingginya harga komoditas menjadi katalis kebangkitan manufaktur kreatif. Optimisme ini diharapkan dapat terus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok perhiasan dunia.(Yonex)





