JN-Momentum perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah dinilai menjadi refleksi fundamental bagi arah kebijakan pendidikan nasional. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan bahwa esensi sejati dari sistem pendidikan tidak boleh hanya terpaku pada capaian kognitif dan akademik semata, melainkan harus mampu membentuk profil manusia Indonesia yang memiliki kepedulian sosial tinggi, empati rill, serta jiwa berkorban bagi sesama.
Peringatan hari besar keagamaan ini dipandang sebagai instrumen kontekstual yang sangat relevan untuk memperkuat implementasi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kemanusiaan global di seluruh satuan pendidikan.
Dalam konteks ketatanegaraan dan pembangunan bangsa, nilai pengorbanan dan keikhlasan yang diajarkan dalam ibadah kurban dijabarkan sebagai landasan gotong royong nasional. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan di Indonesia diarahkan untuk menumbuhkan kepekaan peserta didik terhadap realitas sosial di sekitarnya, sehingga proses belajar-mengajar melahirkan individu yang solutif bagi tantangan di masyarakat.
Baca juga: Iduladha 2026: Menag Ajak Umat Jadikan Nilai Pengorbanan Modal Sosial Jaga Persatuan
“Hari Raya Iduladha menjadi pengingat strategis bagi kita semua bahwa muara dari seluruh ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah adalah pengabdian kepada kemanusiaan. Pendidikan harus berhasil membentuk manusia yang tidak egois, manusia yang peduli sesama, serta siap berkontribusi bagi kesejahteraan lingkungan sekitar. Inilah intisari dari pembentukan karakter generasi emas,” ungkap perwakilan Kemendikdasmen, Kamis (28/5/2026).
Guna menginternalisasikan nilai-nilai tersebut secara taktis, sekolah-sekolah didorong untuk tidak sekadar melaksanakan ritual perayaan secara seremonial. Satuan pendidikan diarahkan untuk melibatkan siswa secara aktif dalam manajemen sosial kurban, mulai dari proses pengumpulan, penataan logistik, hingga distribusi paket bantuan kepada warga yang membutuhkan di sekitar lingkungan sekolah.
Pendekatan pengalaman langsung (experiential learning) ini dinilai jauh lebih efektif dalam menanamkan kecerdasan emosional dan sosial siswa, sekaligus mengikis potensi perilaku individualistis dan egosentrisme di era digital.
Baca juga: Lawan Disinformasi, Menag Tegaskan Tak Ada Ruang Toleransi bagi Pelaku Kekerasan Seksual
Sinergi antara nilai keagamaan dan ekosistem pendidikan humanis ini diharapkan dapat memperkokoh fondasi moral bangsa. Melalui pembiasaan sikap peduli dan saling berbagi yang dipupuk sejak dini di bangku sekolah, pemerintah optimistis dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh, harmonis, serta memiliki solidaritas sosial yang kuat dalam menghadapi dinamika global.(Yonex)





