JN-Menghadapi konjungtur geopolitik dunia yang kian dinamis, Pemerintah Indonesia melalui kementerian pertahanan mempertegas garis kebijakan kemandirian alutsista. Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI menekankan bahwa esensi pertahanan modern tidak hanya terletak pada kekuatan personel, melainkan pada penguasaan teknologi yang mandiri dan berdaya saing.
Hal tersebut ditegaskan Wamenhan saat memberikan arahan strategis dalam Rapat Kerja dan Leadership Development Program DEFEND ID 2026 di Sentul, Rabu (22/4/2026). Ia menyatakan bahwa DEFEND ID sebagai holding industri pertahanan harus menjadi lokomotif peradaban teknologi nasional.
“Kemandirian industri pertahanan adalah harga diri bangsa. Kita tidak boleh sekadar menjadi konsumen di tanah sendiri. Melalui DEFEND ID, kita bertransformasi dari sekadar perakit menjadi pencipta, memastikan setiap jengkal kedaulatan kita dikawal oleh karya anak bangsa,” ujar Wamenhan di hadapan jajaran direksi entitas pertahanan.
Pendekatan “Human-Centric Leadership” menjadi sorotan utama dalam agenda tersebut. Wamenhan menilai bahwa pembangunan industri bukan hanya soal mesin dan material, tetapi tentang pembangunan kapasitas manusia (SDM) yang memiliki visi patriotik sekaligus kompetensi global. Program pengembangan kepemimpinan ini diharapkan melahirkan pemimpin yang mampu menavigasi kompleksitas industri pertahanan dengan integritas tinggi.
Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, penguatan DEFEND ID diproyeksikan memberikan multiplier effect terhadap ekonomi nasional, mulai dari penyerapan tenaga kerja ahli hingga penguatan rantai pasok industri lokal yang terlibat dalam ekosistem pertahanan.(Yonex)





