JN-Kinerja sektor industri manufaktur nasional pada bulan Mei 2026 menunjukkan performa yang kokoh dan tetap berada di zona ekspansif. Capaian positif ini dinilai tidak lepas dari langkah taktis Presiden Prabowo Subianto yang mengambil kebijakan untuk mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, sehingga mampu memberikan kepastian usaha bagi para pelaku industri di tanah air.
Kebijakan mitigasi fiskal dengan menahan harga energi domestik tersebut terbukti efektif dalam meredam gejolak biaya produksi (input cost) di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Dengan stabilnya harga BBM subsidi, rantai pasok logistik dan biaya distribusi barang dapat terjaga dengan baik. Hal ini memberikan stimulus penting bagi para produsen untuk tetap memacu kapasitas produksi mereka tanpa harus membebankan kenaikan biaya yang tinggi kepada konsumen akhir.
Baca juga: Pacu Target Pertumbuhan Nasional, Kemenko Perekonomian Dorong Optimalisasi Potensi Regional
“Keputusan Presiden untuk mempertahankan harga BBM subsidi pada periode ini menjadi jangkar stabilitas yang sangat krusial bagi sektor manufaktur. Langkah ini memberikan sentimen positif bagi pasar, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan daya saing produk manufaktur domestik tetap kuat di pasar regional maupun global,” ungkap pengamat ekonomi industri, Rabu (27/5/2026).
Berdasarkan data indikator aktivitas manufaktur, peningkatan kinerja di bulan Mei ini didorong oleh kuatnya permintaan dalam negeri serta kenaikan volume pesanan baru (new orders). Pelaku usaha merasa lebih percaya diri untuk melakukan ekspansi bisnis dan penyerapan tenaga kerja karena risiko pembengkakan biaya operasional akibat komponen energi dapat diminimalisasi.
Meskipun demikian, Kementerian Perindustrian bersama kementerian teknis terkait menegaskan akan terus memantau dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi harga komoditas dunia. Sinergi lintas sektoral terus diperkuat untuk memastikan pasokan bahan baku industri tetap aman dan efisien.
Baca juga: Sukses Bertransformasi, Mantan Narapidana Kini Jadi Pengusaha dan Miliki 50 Jaringan UMKM
Melalui keberhasilan menjaga momentum ekspansi manufaktur pada bulan Mei ini, pemerintah optimistis kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional akan tetap kokoh, sekaligus menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional yang berkualitas dan berkelanjutan.(Yonex)





