TANGERANG, Jejak News — Mengubah paradigma masyarakat terhadap pelestarian alam tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dimulai dengan menyentuh ruang-ruang kelas tempat generasi masa depan ditempa. Kesadaran humanis ini melandasi gerak progresif Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang yang terus memperkuat penetrasi budaya peduli lingkungan di kalangan pelajar sepanjang Juni 2026.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui peluncuran Lomba Perilaku Ramah Lingkungan Hidup di Sekolah yang dirangkaikan dengan sosialisasi masif Program Sekolah Adiwiyata. Agenda besar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini dibuka langsung oleh Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, di Ruang Al Amanah, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Selasa (09/06/2026).
Dalam pidatonya, Wali Kota Tangerang H. Sachrudin menegaskan bahwa muara dari Program Sekolah Adiwiyata bukan sekadar pembagian piala atau piagam penghargaan. Lebih dalam, program ini adalah instrumen pembentukan karakter berbasis ekologi bagi para peserta didik.
“Sekolah Adiwiyata ini sangat penting karena membentuk perilaku bersih dan sehat yang tidak hanya diterapkan di lingkungan sekolah, tetapi juga dibawa dan diterapkan di lingkungan tempat tinggal masing-masing,” ujar Sachrudin secara persuasif. Ia menambahkan, pendidikan lingkungan wajib diintegrasikan sebagai kebiasaan alami sejak usia dini agar kelak lahir generasi yang peka terhadap ruang hidupnya.
Menjaga Konsistensi Sang Mandiri di Lini Pendidikan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Wawan Fauzi, memaparkan bahwa gerakan ini merupakan buah kolaborasi taktis dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kota Tangerang. Secara spesifik, kompetensi ramah lingkungan kali ini sengaja ditargetkan bagi sekolah-sekolah yang telah merengkuh predikat Adiwiyata Mandiri, yang saat ini jumlahnya telah mencapai 44 sekolah.
“Kami ingin menjaga semangat sekolah-sekolah yang sudah berada pada level Adiwiyata Mandiri agar tetap konsisten mempertahankan budaya peduli lingkungan. Jangan sampai semangatnya menurun karena merasa sudah berada di puncak capaian,” tegas Wawan.
Sejauh ini, raport hijau Program Adiwiyata di Kota Tangerang mencatatkan performa luar biasa. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, merincikan bahwa hingga kini terdapat 167 sekolah Adiwiyata tingkat kota, 252 sekolah tingkat provinsi, lebih dari 90 sekolah tingkat nasional, serta 44 sekolah penyandang predikat Mandiri.
Aksi Nyata Kolosal di Arena Car Free Day: Sedekah Sampah Ditukar Tanaman
Gema penyelamatan bumi ini tidak berhenti di dalam ruang seminar. Sebelumnya, pada Minggu (07/06/2026), momen Car Free Day (CFD) di Tugu Adipura diubah oleh DLH menjadi panggung aksi nyata yang melibatkan ratusan sekolah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis. Hebatnya, gerakan pembersihan ini dilakukan serentak di 13 kecamatan se-Kota Tangerang.
Tak kurang dari 500 sekolah Adiwiyata turun ke jalan membawa sampah anorganik hasil pilahan siswa sejak Jumat lalu—sebagai respons atas surat edaran Wali Kota terkait Gerakan Indonesia Asri. Sampah kardus dan plastik tersebut ditimbang dan disedekahkan di posko CFD. Sebagai bentuk apresiasi, warga sekolah dan masyarakat yang bersedekah sampah langsung dihadiahi tanaman produktif seperti tomat, terong, dan cabai, hasil sinergi dengan Dinas Ketahanan Pangan.
“Tujuannya untuk mengedukasi dari tingkat rumah tangga dan sekolah agar pemilahan sampah menjadi kebiasaan. Ini sangat penting untuk mengurangi beban TPA kita yang kondisinya sudah hampir penuh,” urai Wawan Fauzi di sela penimbangan sampah.
Dampak edukasi ini diakui langsung oleh para tenaga pendidik di lapangan. Yuyun Heriana, salah satu guru dari SMP Negeri 21 Kota Tangerang, mengekspresikan antusiasme tinggi institusinya dalam mendukung gerakan sedekah sampah ini.
“Kami dari pihak sekolah sangat antusias mendukung acara ini karena ada program sedekah sampah. Di sekolah, anak-anak sudah diajarkan memilah antara sampah organik dan anorganik. Sampah plastik dan kardus sengaja kami kumpulkan untuk disumbangkan ke acara CFD ini,” tutur Yuyun penuh harap agar kegiatan serupa terus berlanjut.
Rangkaian perayaan Hari Lingkungan Hidup di Kota Tangerang tahun ini memberikan sebuah teladan berharga: bahwa merawat bumi tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika birokrasi. Dengan mengawinkan kebijakan lomba di sekolah dan aksi nyata sedekah sampah di jalanan, Pemkot Tangerang sedang menenun simfoni perubahan perilaku yang humanis.
Ketika seorang anak sekolah mulai terbiasa memilah plastik dan menyedekahkannya untuk masa depan kotanya, di situlah sebuah harapan baru tumbuh—bahwa di masa depan, bumi Tangerang akan tetap asri, terbebas dari polusi, dan dirawat oleh generasi yang tidak lagi asing dengan alamnya sendiri.
Reporter: Rahayu| Editor: Ismail Saleh





