JAKARTA – Jejak News. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global yang menyelimuti Selat Hormuz, perhatian dunia kini tertuju pada Selat Malaka sebagai poros utama stabilitas ekonomi internasional. Sebagai salah satu penjaga jalur pelayaran tersibuk di dunia, Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengedepankan prinsip keterbukaan dan kerja sama inklusif demi kelancaran arus logistik global.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam pernyataan resminya menekankan bahwa Indonesia tidak akan memberlakukan tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka. Langkah ini diambil bukan sekadar sebagai kebijakan ekonomi, melainkan sebagai wujud kepatuhan terhadap hukum internasional United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) serta manifestasi tanggung jawab moral terhadap kesejahteraan global.
“Kami memandang Selat Malaka bukan hanya sebagai aset geografis, tetapi sebagai warisan bersama yang harus dijaga keberlangsungannya. Indonesia berkomitmen menciptakan jalur pelayaran yang bebas hambatan, terbuka, dan netral,” ujar Sugiono. Pernyataan ini sekaligus merespons diskursus publik mengenai efisiensi biaya logistik di tengah lonjakan volume lalu lintas kapal yang mencapai 102.500 unit sepanjang tahun 2025.
Pemerintah menyadari bahwa di balik angka-angka ekonomi, terdapat risiko kemanusiaan dan lingkungan yang nyata. Dengan lebar titik tersempit hanya 2,7 kilometer, Selat Malaka menyimpan tantangan besar berupa risiko tabrakan dan tumpahan minyak yang dapat melumpuhkan ekosistem pesisir. Oleh karena itu, Indonesia bersama Malaysia dan Singapura terus memperkuat patroli bersama (Malacca Straits Patrol) untuk menekan angka kriminalitas maritim yang sempat mencapai 104 kasus di tahun lalu.
Pendekatan Indonesia bersifat humanis-kolaboratif; alih-alih mengejar keuntungan jangka pendek melalui tarif, Indonesia memilih investasi jangka panjang dalam bentuk keamanan maritim dan perlindungan lingkungan. Hal ini krusial mengingat Selat Malaka merupakan chokepoint minyak terbesar di dunia dengan arus mencapai 23,2 juta barel per hari, melampaui volume di Selat Hormuz.
Langkah diplomasi ini juga menjadi angin segar bagi negara-negara konsumen besar di Asia Timur, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, yang menggantungkan stabilitas energinya pada keamanan jalur ini. Dengan menjaga Selat Malaka tetap terbuka dan kompetitif, Indonesia berperan aktif dalam mencegah krisis energi global yang dapat berdampak pada masyarakat luas di seluruh dunia.
Melalui sinergi antarnegara pantai, Indonesia optimistis bahwa Selat Malaka akan tetap menjadi simbol konektivitas yang mempersatukan, bukan sekat yang memisahkan kepentingan antarbangsa.
Pewarta: Ananta Fathur | Editor: Ismail Saleh





