JN-Langkah progresif dalam tata kelola lingkungan berbasis kerakyatan kembali lahir dari daerah. Menteri Republik Indonesia, Jumhur, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inovasi taktis yang ditunjukkan oleh Kota Semarang dalam mengolah sampah organik menjadi media tanam berkualitas tinggi yang memiliki nilai ekonomi sirkular dari hulu hingga ke hilir.
Keberhasilan ini dinilai sebagai bukti autentik bahwa permasalahan sampah perkotaan dapat diurai dengan pendekatan yang cerdas, inklusif, dan mandiri. Pemerintah menegaskan bahwa transformasi sampah menjadi komoditas produktif merupakan ejawantah nyata dari prinsip Ekonomi Pancasila, di mana pengelolaan lingkungan hidup berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat arus bawah.
Menteri Jumhur menjelaskan bahwa formula pengelolaan yang diterapkan di Semarang patut menjadi percontohan nasional bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Inovasi ini tidak hanya berhasil menekan volume pembuangan limbah secara masif di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan juga mampu menggerakkan produktivitas sektor riil dengan melibatkan jaringan komunitas lokal, kelompok wanita tani, hingga pelaku UMKM domestik secara terintegrasi.
“Semarang telah menunjukkan caranya kepada kita semua. Sampah yang selama ini dianggap sebagai beban dan sumber masalah ekologi, di tangan orang-orang kreatif mampu diubah menjadi media tanam subur bernilai ekonomi. Ini adalah langkah berani yang transparan, akuntabel, dan sangat berwibawa dalam membangun ketahanan pangan serta kemandirian ekonomi hijau dari tingkat tapak,” ujar Menteri Jumhur di sela-sela apresiasinya.(Yonex)





