JN-Dalam upaya menjaga resiliensi kawasan pesisir sebagai bagian dari kedaulatan teritorial, Menteri Pertahanan RI menghadiri Rapat Terbatas (Ratas) yang dipimpin langsung oleh Presiden RI di Istana Negara, Selasa (21/4/2026). Fokus utama pembahasan kali ini adalah percepatan pembangunan Giant Sea Wall (Tanggul Laut Raksasa) Nasional.
Kehadiran Menhan dalam Ratas tersebut menggarisbawahi bahwa ancaman lingkungan di sepanjang pesisir utara Jawa bukan hanya isu ekologi, melainkan tantangan pertahanan nasional. Kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah (land subsidence) dipandang sebagai ancaman non-militer yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan warga di wilayah strategis.
“Giant Sea Wall adalah investasi strategis untuk masa depan kedaulatan kita. Ini adalah ‘Benteng Pertahanan Masa Depan’ yang melindungi pusat-pusat ekonomi dan pemukiman rakyat dari ancaman abrasi serta hilangnya daratan,” tegas pihak kementerian terkait hasil pertemuan tersebut.
Proyek ambisius ini dirancang dengan pendekatan humanis, memastikan bahwa selain fungsi pertahanan fisik, tanggul ini juga menjadi ekosistem baru yang mendukung keberlanjutan hidup nelayan dan masyarakat pesisir. Pemerintah menekankan pentingnya integrasi data antara keamanan maritim dan mitigasi bencana lingkungan dalam cetak biru pembangunan tanggul ini.
Dalam rapat tersebut, disepakati bahwa proyek ini akan melibatkan kolaborasi lintas sektoral, di mana aspek pertahanan wilayah akan disinergikan dengan infrastruktur pekerjaan umum dan investasi berkelanjutan guna mewujudkan perlindungan wilayah pesisir yang komprehensif.(Yonex)





