Menggugah Patriotisme Teknokrat, Presiden Prabowo Tekankan Narasi “Indonesia Terang” di Tengah Arus Kritik

Presiden Prabowo Subianto saat berdialog dengan masyarakat dan menekankan pentingnya sinergi antara ilmuwan dan pemerintah untuk kemandirian bangsa di Cilacap, Jawa Tengah (29/4).
 Dokumentasi Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kebangsaan tentang integritas dan pengabdian di Cilacap.
CILACAP – Jejak News, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan respons fundamental terhadap dinamika diskursus publik yang berkembang di ruang digital. Dalam kunjungannya ke Cilacap, Rabu (29/04/2026), Kepala Negara membedah esensi kritik “Indonesia Gelap” dan gerakan destruktif lainnya sebagai tantangan terhadap ketahanan nasional dan semangat persatuan bangsa.
Presiden menegaskan bahwa narasi pesimisme yang beredar di media sosial tidak mencerminkan realitas objektif bangsa yang kini tengah berada di jalur kemajuan. “Matanya buram kalau melihat Indonesia gelap. Indonesia itu terang,” ujar Presiden dengan nada humanis namun tegas, mengingatkan bahwa sejarah kelam perpecahan melalui adu domba harus menjadi pelajaran kolektif agar tidak terulang di masa depan.
Dalam pidato yang bernuansa jurnalisme transformatif ini, Presiden secara khusus mengetuk hati para teknokrat, insinyur, dan ilmuwan. Beliau menekankan bahwa kecerdasan intelektual seharusnya menjadi instrumen untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, bukan alat untuk melegitimasi praktik korupsi atau kepentingan asing.
“Sekarang saatnya para profesor menjadi profesor merah putih, menjadi pembela rakyat. Jangan kepandaianmu kau pakai untuk menipu rakyat dan bangsa,” tegas Prabowo. Ia menggarisbawahi bahwa periode kepemimpinannya adalah kesempatan emas bagi Indonesia untuk mengelola kekayaan alam secara mandiri demi kesejahteraan yang inklusif.
Menanggapi fenomena gaya hidup mewah pejabat yang kontradiktif dengan kondisi masyarakat, Presiden memberikan peringatan keras. Ia memastikan akan melakukan penyaringan ketat dalam lingkaran pemerintahannya. Prinsip patriotisme dan cinta tanah air menjadi harga mati dalam rekrutmen serta kerja sama strategis pemerintah.
“Saya tidak akan toleransi mereka yang tidak patriotik. Sepintar apa pun kau, kalau tidak bela bangsamu sendiri, tidak ada tempat di sekitar saya,” pungkasnya, menutup arahan yang menuntut empati tinggi dari para pelayan publik.
Pewarta: Ananta Fathur| Editor: Ismail saleh

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu