CIREBON, Jejak News- Di balik sebuah video viral berdurasi 33 detik yang menggetarkan sanubari netizen, tersimpan narasi kepahlawanan seorang ayah yang kini telah tiada. Masadira (45), seorang penarik becak di Desa Setu Kulon, Kabupaten Cirebon, ditemukan menghembuskan napas terakhir di atas kursi penumpang becaknya sendiri pada Jumat lalu, meninggalkan luka mendalam bagi istrinya, Kurinah (43), dan putra semata wayang mereka, Noval Saqif.
Hingga Senin siang (27/4/2026), kediaman Kurinah masih diselimuti atmosfer duka. Kelopak mata yang sembap menjadi saksi betapa terpukulnya ia kehilangan sosok suami yang selama ini menjadi pilar kekuatan keluarga. Masadira bukan sekadar penarik becak; ia adalah pejuang yang mengabaikan rasa sakit akibat saraf kejepit, asam urat, hingga komplikasi demi memastikan dapurnya tetap mengepul dan pendidikan anaknya tetap terjaga.
“Bapak sering memaksa tetap menarik becak. Beliau tidak ingin sekadar diam di rumah, tapi ingin terus mencari tambahan untuk sekolah Noval,” kenang Kurinah dengan suara bergetar. Keteguhan Masadira mencerminkan sisi intelektual humanis dari seorang kepala keluarga yang memahami bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi anaknya untuk memutus rantai keterbatasan ekonomi.
Kini, tongkat estafet perjuangan berpindah sepenuhnya ke bahu Kurinah. Sebagai buruh pembuat kerupuk dengan upah Rp 50.000 per hari, ia harus menghadapi realitas pahit untuk menjadi tulang punggung tunggal. Namun, semangat almarhum Masadira seolah terus hidup dalam dirinya. Kurinah bertekad untuk tidak membiarkan Noval putus sekolah, meskipun kondisi ekonomi serba pas-pasan.
Kejadian yang berlangsung di depan SDN 1 Setu Kulon tersebut tidak hanya menarik perhatian warga sekitar, tetapi juga menjadi refleksi nasional tentang betapa kerasnya perjuangan masyarakat kelas bawah di tengah kerentanan kesehatan. Masadira meninggal dunia saat menunggu penumpang, sebuah simbol dedikasi yang paling murni dari seorang pekerja keras.
Solidaritas dari tetangga dan bantuan tim gabungan TNI-Polri dalam proses pemulangan jenazah menjadi pengingat bahwa di tengah tragedi, nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong tetap tumbuh subur. Kini, harapan Kurinah hanya satu: agar doa dan perjuangan suaminya menjadi pondasi bagi Noval untuk meraih mimpi yang selama ini mereka cita-citakan bersama.
Pewarta: Acep Sunandar | Editor: Ismail Saleh





