TANGERANG, Jejak News – Air bukan sekadar komoditas, melainkan hak asasi yang menjadi fondasi kesejahteraan dan peradaban. Memegang teguh prinsip tersebut, Pemerintah Kota Tangerang melalui Perumda Tirta Benteng terus memacu denyut pembangunan infrastruktur air bersih. Di tahun 2026 ini, sebuah target ambisius namun terukur dicanangkan: menghadirkan akses air layak konsumsi bagi 10.000 rumah tangga baru di wilayah Zona 2.
Langkah strategis ini bukan sekadar mengejar angka statistik, melainkan sebuah ikhtiar humanis untuk memastikan setiap warga di Kecamatan Periuk, Cibodas, Jatiuwung, hingga Karawaci, dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik melalui sanitasi yang mumpuni.
Menembus Batas Sosiokultural melalui Sosialisasi Partisipatif
Percepatan ini tidak dilakukan dengan pendekatan top-down yang kaku. Perumda Tirta Benteng memilih jalan dialogis. Teranyar, di RW 02 Kelurahan Manis Jaya, Jatiuwung, jajaran direksi turun langsung menyapa warga. Sosialisasi pemasangan jaringan pipa dilakukan dari pintu ke pintu, memastikan bahwa pembangunan fisik selaras dengan pemahaman dan dukungan masyarakat setempat.
Direktur Teknik Perumda Tirta Benteng, Joko Surana, menegaskan bahwa kehadiran negara—melalui BUMD—adalah untuk menjamin keberlanjutan ekosistem kehidupan.
“Kami hadir bukan hanya untuk membangun pipa, tapi untuk membangun kepercayaan. Kami mengajak warga menjadi bagian dari transformasi ini, karena air bersih adalah investasi kesehatan jangka panjang bagi anak cucu kita,” ujar Joko pada Kamis (16/4).
Secara teknokratis, ambisi melayani 10 ribu pelanggan baru ini ditopang oleh kesiapan infrastruktur yang tangguh. Perumda Tirta Benteng telah mengoptimalisasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sitanala 1 dan 2. Dengan total kapasitas mencapai 1.000 liter per detik (lps), Kota Tangerang kini memiliki ketahanan suplai yang sangat memadai untuk mendukung pertumbuhan urban di Zona 2.
Integrasi antara kapasitas produksi yang besar dan jaringan distribusi yang luas menjadi kunci utama dalam mewujudkan pemerataan akses. Harapannya, tidak ada lagi disparitas layanan air bersih antara pusat kota dan wilayah penyangga industri.
Upaya masif di Kota Tangerang ini menjadi preseden positif bagi tata kelola air bersih di tingkat nasional. Di tengah tantangan perubahan iklim dan penurunan kualitas air tanah, langkah Perumda Tirta Benteng membuktikan bahwa kemandirian air bersih melalui sistem perpipaan adalah solusi paling rasional dan berkelanjutan.
Transformasi yang dilakukan Perumda Tirta Benteng adalah bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur haruslah memiliki “ruh” kemanusiaan. Dengan target 10 ribu sambungan baru, Kota Tangerang sedang mengukir sejarah baru dalam pemenuhan hak dasar rakyat—memastikan air mengalir, kehidupan bertumbuh, dan kesejahteraan bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas di setiap kran rumah warga.
Pewarta: Rudy | Editor: Ismail Saleh







